Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

AL-MUNJID, Kamus Bahasa Arab Yang Berbahaya Untuk Dipelajari

 
Bismillah,
Jika Anda pernah menuntut ilmu di pesantren, tradisional maupun modern, atau bahkan berguru di berbagai perguruan tinggi Islam seperti Universtias Islam Negeri (UIN) Jakarta, Anda pasti mengenal Kamus al-Munjid.
Sebuah kamus yang dianggap paling lengkap dan komperehensif, antara lain karena dihiasi dengan gambar-gambar, yang dijadikan kamus utama di berbagai kampus Islam dan pondok pesantren seluruh dunia.


Bahkan di beberapa pondok pesantren seperti Ponpes Darunnajah Ulu Jami Jakarta, ada satu mata pelajaran khusus untuk menggunakan Kamus al-Munjid yang disebut Mata Pelajaran Fathul Munjid.

Namun tahukah Anda, bahwa Kamus Arab al-Munjid yang dipakai di seluruh ponpes dan kampus Islam dunia itu ternyata disusun oleh dua orang pendeta (rahib) Katolik bernama Fr. Louis Ma’luf al-Yassu’i dan Fr. Bernard Tottel al-Yassu’i yang dicetak, diterbitkan, dan didistribusikan oleh sebuah percetakan Katolik sejak tahun 1908.

Penggunaan Kamus al-Munjid yang sudah lama dan masih dipakai hingga kini bukanlah tanpa penentangan. Sebagian ulama menganggap kamus tersebut merupakan bagian dari operasi para orientalis yang memiliki agenda tersembunyi terhadap Dunia Islam.

Sekurangnya ada dua kitab yang ditulis ulama Islam yang berisi penentangan terhadap Kamus al-Munjid, yakni:


• ‘Atsrat al-Munjid fi al-adab wal ulum wa a’lam (Prof. Ibrahim al-Qhatthan, 664 halaman, terbit 1392 H), ini adalah kitab paling utama dalam mengkritisi Kamus al-Munjid.

• An-Naz’ah an-Nashraniyah fi Qamus al-Munjid (DR. Ibrahim Awwad, 50 hal, terbit 1411 H)

Kamus al-Munjid sendiri memiliki beberapa kekurangan, jika tidak dikatakan sebagai kesengajaan, yakni:

• Ketika memuat entry “Al-Qur’an”, tidak pernah menyambungkannya dengan istilah “al-Kariem” dan sebagainya, namun ketika memuat entry kitab suci Kristen dan Yahudi, maka kamus ini menambahkan istilah “al-Muqaddas”,

• Ketika memuat entry “Nabi Muhammad”, tidak pernah mengikutsertakan gelar ‘Shalallahu Allaihi Wassalam”, demikian pula entry para shahabat tidak pernah ditambahkan dengan “Radiyallahu Anhu”,

• Tidak ada kalimat ‘Basmallah’ di atas setiap bab seperti halnya kitab-kitab umat Islam,

• Entry “al-Basmallah” yang sesungguhnya milik umat Islam namun dalam keterangannya tertulis “Bismil ab-wal ibn wa Ruhil Quds” yang memiliki arti sebagai “Dengan menyebut Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Ruh Kudus”, setelah itu baru ada entry “Bismillahirahmannirahim”,

• Kamus ini juga tidak membahas akidah Islam, namun banyak membahas hal-hal yang bersifat penyimpangan-penyimpangan akidah,

• Nama- nama tokoh Islam yang utama seperti para shahabat, tabiin, dan para ulama terkemuka juga tidak dimuat, namun di lain sisi nama-nama tokoh Barat Kristen banyak dimuat,

• Kamus ini tidak pernah merujuk pada sumber-sumber Islam yang asli, tapi sebaliknya merujuk pada sumber-sumber Barat, dan ini sangat jelas terlihat dalam entry ‘ibadat’ dan penyebutan nama-nama nabi dan rasul yang menggunakan istilah kristen,

• Banyak kesalahan penulisan nama-nama tokoh dan kaitannya dengan sejarah,

• Mengatakan bahwa daging babi itu sangat lezat,


• Dimasukkannya gambar-gambar dan aneka lukisan yang berasal dari Barat yang sama sekali tidak berdasarkan kebenaran, seperti halnya gambar Nabi Isa dan nabi-nabi lainnya. Bahkan ada sebuah gambar sepasang manusia dewasa telanjang yang tengah menangis, gambar itu dikatakan sebagai gambar Adam dan Hawa,

• Nabi Nuh, Luth, dan Sulaiman dikatakan bukan sebagai nabi, tapi Lukman disebut sebagai nabi. Nuh dikatakan sebagai ‘Manusia Taurat pertama’, Luth dikatakan hanya sebagai ‘keponakan Ibrahim’ dan Sulaiman dikatakan sebagai ‘Raja’ bukan nabi,

• Nabi Daud disebut sebagai pembunuh banyak lelaki untuk memperisteri jandanya, padahal beliau telah memiliki isteri sebanyak 100 orang.

Masih teramat banyak catatan-catatan tentang kamus produk orientalis ini yang sampai sekarang, entah kenapa, masih saja dipergunakan di banyak lembaga pendidikan Islam. Sudah saatnya umat Islam menyadari dan berhenti memakai kamus ini. Dan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI), sudah sepatutnya melarang peredaran dan penggunaan kamus ini di seluruh Indonesia. (Rz)

FATWA SYAIKH MASYHUR HASAN SALMAN TENTANG PENGGUNAAN KAMUS BAHASA ARAB “AL MUNJID”

Oleh : Syaikh Masyhur Hasan Salman

السؤال: ما رأيكم في قاموس “المنجد”؟
Pertanyaan : Bagaimana pendapat Anda tentang kamus Al-Munjid?

الجواب: للأسف أقول: إن هذا القاموس غزا؛ لا أقول المدارس والجامعات والمكتبات، بل للأسف غزا البيوت، وفي كثير من البيوت يعتمد على هذا القاموس لأنه سهل
Jawab : Sangat disayangkan, saya katakan bahwasanya kamus ini telah menyerbu … saya tidak katakan (hanya) menyerbu sekolah-sekolah, universitas-universitas dan perpustakaan-perpustakaan (saja), bahkan sangat disayangkan (kamus ini) telah menyerbu sampai ke rumah-rumah. Banyak dijumpai di rumah-rumah yang bergantung kepada kamus ini karena mudah (digunakan).

لكن هذا القاموس فيه سموم عظيمة ولا يجوز لأحد أن يقرأ فيه، إلا إن كان شبعان ريام من علوم الشريعة، يعرف من خلال ما وهبه الله إياه من علم الصحيح من السقيم، والجيد من الرديء، والأصيل من الدخيل
Namun, kamus ini mengandung racun yang sangat besar, maka seorang pun tidak diperkenankan untuk membacanya. Kecuali orang yang telah menguasai ilmu-ilmu syariah yang dianugerahkan Allah kepadanya, sehingga dia bisa membedakan antara yang benar atau cacat, yang baik dan buruk, yang asli atau yang sudah terkontaminasi.

هذا القاموس وضعه النصارى ،وأول ما طبع سنة 1908، وكتبه راهب نصراني هو الأب لويس معروف اليسوعي، ووضع قسم الأعلام منه، راهب نصراني آخر، هو الأب فرَانْديد توت ، يسوعي أيضاً، وطبع أول ما طبع في المطبعة الكاثوليكية
Kamus ini dibuat oleh orang Nashrani dan dicetak pertama kali pada tahun 1908. Ditulis oleh pendeta (rahib) bernama Fr. Louis, seorang Jesuit terkenal yang membuka bagian informasi di dalamnya dan pendeta Nashrani lain bernama Fr. Frendid Tut, seorang Jesuit juga. Kamus ini dicetak pertama kali di percetakan Katolik.

هذا القاموس فيه بعض الآيات خطأ ولا يوجد فيه ((قال الله)) ويقولون أحياناً ((في القرآن)) ولا يوجد فيه صفة للقرآن بأنه مقدس أو عظيم، ويكثرون من ذكر الأسفار والتوراة والإنجيل خاصة، ولا يوجد فيه حديث نبوي واحد، ونحن نعرف لغة العرب من القرآن والحديث والشعر الجاهلي، وللآلوسي كتاب حول ما يستشهد به على كلام العرب
Dalam kamus ini terdapat :
• beberapa kesalahan ayat
• tidak terdapat lafadz “Firman Allah”, terkadang mereka berkata: “Di dalam Al-Qur’an”
• tidak mencantumkan sifat Al-Qur’an yang Suci atau Agung
• banyak dicantumkan berita dari kitab suci Taurat dan Injil secara khusus
• tidak terdapat hadits Nabi meskipun hanya satu, sementara kita mengetahui bahasa Arab bersumber dari Al-Qur’an, Hadits dan syair-syair Arab Jahiliyah. Al-Alusi memiliki sebuah kitab yang berbicara tentang pengambilan dalil dari perkataan Arab.

وهذا القاموس فيه إرجاع إلى مجلات النصارى ،ولا يوجد فيه إرجاع إلى مجلة قام عليها المسلمون أبداً
Kamus ini selamanya hanya merujuk kepada majalah-majalah Nashrani dan tidak pernah merujuk kepada majalah yang diterbitkan oleh orang Islam.

وهذا القاموس لا يوجد فيه ذكر للمصطلحات الإسلامية فمثلاً: كل أعياد النصارى كالشعانين والفصح وغيرها كلها موجودة فيه بالتفصيل، أما المصطلحات الإسلامية فغير موجودة فيه، حتى البسملة يقولون هي(بسم الأب والابن والروح القدس) فهذه البسملة الموجودة عندهم
Kamus ini tidak menyebutkan istilah-istilah Islam, misalnya seluruh perayaan Nashrani seperti Paskah dan selainnya. Semuanya tercantum dengan terperinci. Adapun istilah-istilah Islam tidak dicantumkan di dalamnya. Sampai-sampai lafadz Basmalah mereka ucapkan dengan : “Dengan nama Bapa, Putra dan Ruh Kudus”. Inilah Basmalah yang ada pada mereka.

فهذا القاموس خطير جداً لا يجوز لأحد أن يقرأه وقد وجدت رسالة نافعة طيبة للدكتور إبراهيم عوض سماها: “النزعة النصرانية في قاموس المنجد” فمر بهذا القاموس ودرسه دراسة جيدة، وذكر في هذه الرسالة النزعة النصراينة بتأصيل وتمثيل، من قرأها يعلم علم اليقين أن هذا القاموس وضع للتبشير، ووضع لتروج بضاعة النصارى وعقائدهم على المسلمين
Kamus ini sangat berbahaya, maka tidak boleh seorang pun membacanya. Saya telah mendapatkan sebuah risalah yang bermanfaat dan baik sekali karya Dr. Ibrahim ‘Awudh yang diberi judul “An-Naz’ah An-Nashraniyyah fii Qaamus Al-Munjid” “Kecondongan kepada Nashrani dalam Kamus Al-Munjid”. Beliau membahas tentang kamus ini dengan pembahasan yang baik sekali. Disebutkan juga di dalamnya kecondongan kepada Nashrani berdasarkan sumbernya dan contoh-contohnya. Maka barangsiapa yang membacanya akan mengetahui secara yakin bahwasanya kamus ini disusun dalam rangka misionaris (penyebaran agama Nashrani).

فينبغي أن يقاطع هذا القاموس وهناك بديل عنه مثل “القاموس المحيط” و”المعجم الوسيط” وغيرها ، والله أعلم
Maka hendaknya Kamus ini ditinggalkan saja karena telah ada penggantinya, seperti kamus Al-Muhith dan Al-Mu’jam Al-Wasith dan lain sebagainya.

Wallaahu A’lam ( Hanya Allahlah yang Maha Mengetahui).

Readmore...

Biografi abdul husein musawi, penghujat Abu Hurairah

 
Berikut biografi abdul husein al musawi, yang berani menghujat sahabat Abu Hurairah. Pembaca sudah mengetahui kualitas ilmiah dan kejujurannya dari 30 artikel di situs ini. Kali ini pembaca akan tahu siapa dia.

Beberapa kali pikiran saya dilanda gundah, saya takut pembaca bosan mengikuti lebih 30 artikel tentang abdul husein al musawi dan abu hurairah. Barangkali ada pembaca yang bertanya mengapa membahas penipuan abdul husein tidak selesai-selesai. Sebenarnya mudah saja untuk membuatnya selesai, tinggal ganti topik tulisan. Tapi kenapa masih saja membahas abdul husein? Apa karena materi MrShiaa tentang hakekat tersembunyi mazhab syiah sudah habis? Bukan, materi masih sangat banyak, yang belum dituangkan di situs ini jauh lebih banyak daripada yang sudah ditulis.

Saya sengaja memperpanjang artikel tentang abdul husein, agar pembaca mengenal karakteristik ulama syiah, yang katanya memilki kemampuan ilmiah jauh di atas ulama muslimin lainnya. Agar pembaca mengenal ulama syiah yang konon mengambil ilmu dari para ahlulbait. Dengan mengenal karakteristik ulama syiah, pembaca akan mengenal karakteristik para ustadz syiah yang belajar dari para ulama syiah. Ada pepatah guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

Tapi saya melakukan kesalahan besar, karena setelah 30 lebih artikel tentang abdul husein, saya tidak menuliskan biografi abdul husein. Banyak pembaca yang penasaran tentang abdul husein, banyak yang ingin tahu siapa dia sebenarnya, ingin membaca biografinya. Bahkan ada pembaca yang mengira bahwa abdul husein adalah orang Indonesia. Saya bisa memaklumi, karena memang biografinya tidak tersebar di kalangan masyarakat awam. Saya ingin menebus kesalahan saya dengan artikel ini.

Siapa abdul husein al musawi?

Nama lengkapnya adalah abdul husein bin Sayid Yusuf bin Sayid Jawad Syarafuddin Al Musawi Al Amili
Lahir pada tanggal 1 jumadil tsani tahun 1290 H di kota Kazhimiyah

Menyelesaikan tingkatan muqaddimat di bawah bimbingan ayahnya di Lebanon, pergi ke Irak pada usia 17 tahun untuk melanjutkan studi di hauzah Najaf dan hauzah-hauzah lainnya yang tersebar di Irak. Setelah menyelesaikan tingkatan sutuh aliyah, abdul husein menghadiri majelis taklim para ulama di Najaf.

Setelah mencapai derajat ijtihad, abdul husein kembali ke Lebanon selatan untuk kepentingan dakwah, saat itu dia berusia 32 tahun. Dia juga pergi ke Mesir untuk belajar dari para ulama dan dosen Al Azhar, dan mengambil pelajaran dari hikmah-hikmah mereka, di antaranya adalah Syaikh Muhammad al Kittani, dan Syaikh Salim Al Bisyri.

Di antara guru-gurunya

Syaikh Muhammad Thaha Najaf, Sayyid Ismail As Shadr, Syaikh Fathullah Al Isfahani, yang dikenal dengan sebutan Syaikh Syari’ah, Syaikh Muhammad Kazhim Al Khurasani, Sayyid Muhammad Kazhim ThabaThabai Al Yazdi, dan ayahnya yang bernama Yusuf, Syaikh Husein An Nuri At Thabrasi, Syaikh Muhammad Shadiq Al Isfahani, Syaikh Hasan Al Karbala’I, Syaikh Ali Al Jawahiri, Sayyid Hasan As Shadr.

Sifat dan Akhlaqnya

Salah satu sifat yang menonjol dari abdul husein al musawi adalah ikhlas dalam beramal, hanya untuk Allah saja, juga sangat memuliakan tamu, terutama para ulama.

Dia memperhatikan seluruh tingkatan masyarakat, dia selalu berusaha mengurus masalah yang dialami oleh kaum fakir muskin. Pada perang dunia kedua, dia mengumpulkan sumbangan dan hak-hak syar’I, baik berupa makanan dan lainnya, serta membagikannya pada kaum fakir miskin, untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Dia sangat penyayang, memaafkan siapa yang berbuat buruk padanya, dia sangat bersemangat untuk menghidupkan peringatan para ulama dan ahli sastra, selalu memberikan semangat dalam belajar, serta dalam berjalan di jalan membersihkan jiwa dan menghiasi jiwa dengan keutamaan, memberi semangat untuk ber amar makruf dan nahi mungkar. Dia selalu berwasiat pada para pelajar agar bersikap rendah hati, dan berbicara pada manusia sesuai dengan tingkatan akal mereka, sesuai dengan kondisi jiwa mereka.

Mengenai keberaniannya, dia pernah beberapa kali berhadapan dengan penjajah perancis, dia bersikap berani pada daulah Utsmaniyah, dan berhasil mendapatkan persetujuan bagi para pelajar agama agar bisa terbebas dari wajib militer.

Dia wafat tanggal 8 jumadil tsani tahun 1377 H.

Biografi ini saya ambil dari situs syiah berikut:

http://www.al-shia.org/html/ara/others/?mod=monasebat&id=315

Dari kritikan abdul husein pada abu hurairah, saya menemukan sifat-sifat tambahan yang dimiliki oleh abdul husein, yang tidak disebutkan oleh situs al-shia.org. Salah satunya adalah berani berdusta. Ini bisa kita lihat dari tuduhan-tuduhannya pada abu hurairah. Ternyata apa yang dituduhkan pada abu hurairah ada dalam kitab-kitab syiah. Inilah salah satu sifat dan akhlak abdul husein yang rupanya luput dari pengamatan pengelola situs al-shia.org.

Bagi abdul husein, umat Islam adalah seperti kambing yang bodoh dan mudah ditipu. Jika yang dimaksud adalah syiah, memang benar penganut syiah mudah sekali ditipu, tapi yang membaca buku abdul husein bukan hanya syiah, tapi seluruh umat bisa membaca buku-bukunya.

Tapi saya bisa memaklumi, karena pengelola situs itu adalah seorang syiah, yang seperti biasanya syiah, dia mudah ditipu dan mudah kagum dengan ulama mereka, sehingga secara tidak langsung, dan saya duga sudah merasuk ke alam bawah sadar, menganggap ulama mereka adalah imam maksum, yang tidak boleh digugat dan dihujat. Dia percaya begitu saja pada semua ucapan abdul husein. Sungguh kasihan.

Jika kita amati lagi, berani berdusta adalah sifat seragam yang dimiliki oleh syiah. Kita lihat rekan-rekan syiah di sekitar kita begitu berani berdusta dan menipu. Rupanya ini adalah ajaran dari ulama mereka. Bukti paling jelas dan mudah adalah Jalaludin Rahmat, ketua IJABI, dia tidak segan-segan berdusta di depan layar kaca dan disaksikan oleh jutaan umat. Dia merasa bahwa umat Islam Indonesia adalah orang-orang bodoh dan mudah ditipu, seperti penganut syiah.

Ada satu lagi yang harus kita perhatikan, jika kita lihat penerbit mizan yang menerbitkan buku dialog sunni syiah, ternyata mizan tidak menuliskan nama sebenarnya dari abdul husein, tapi hanya menuliskan a. syarafudin al musawi. Ini karena mizan ingin menipu pembaca, dan menyembunyikan identitas sebenarnya dari abdul husein, bahwa dia adalah hamba dari Imam Husein, bukan hamba Allah, sementara menuliskan nama sebenarnya dari abdul husein akan memancing resistensi umat. Rupanya pengelola mizan adalah murid sejati abdul husein.

Barangkali ada pembaca yang mengira bahwa ini adalah akhir dari serial membongkar penipuan abdul husein. Bukan, ini bukan yang terakhir, masih ada lagi artikel artikel tentang membongkar penipuan abdul husein.

O iya, ada yang tak sengaja terlupa, buku-buku karya abdul husein adalah:

Abu Hurairah [yang kita bahas dalam situs ini], Murajaat [diterjemahkan oleh mizan berjudul dialog sunnah- syiah], An Nash wal Ijtihad, Al Majalis Al Fakhirah fi Maatim Al Itrah At Thahirah, Al Kalimat Al Gharra’ fi tafdhil Az Zahra’, Al Fushul Al Muhimmah fi Ta’lif Al ummah, [diterbitkan dalam Indonesia dengan judul : isu-isu penting ikhtilaf Sunnah Syiah], Mu’allifu As Syi’ah fi Shadril Islam, Tsabtul Atsbat fi Silsilat Ar Ruwat, Ilal Mujamma’ Al Alami bi Dimasyq, Falsafat Al Mitsaq wal Wilayah, Ajwibat Masa’il Jarullah, Kalimat Haular Ru’yat, Bughyatu Ar Raghibin, Zainab Al Kubra, Masa’il Fiqhiyyah.

Setelah mengikuti tipuan-tipuan abdul husein yang satu per satu terbongkar, seorang muslim yang intelek sudah semestinya ragu akan kejujuran abdul husein dalam buku-bukunya yang lain. Karena sifat berani berdusta sepertinya sudah merasuk ke dalam jiwanya, sehingga dia begitu mudah untuk menipu dan berdusta.

http://hakekat.com/content/view/115/
Readmore...

Menghujat Abu Hurairah, Menghujat Kitab Sendiri (32) Mengapa abdul husein menghujat kitab syiah?

 

Mengapa abdul husein menghujat riwayat Abu Hurairah yang ternyata ada dalam kitab syiah? Apakah dia berani menghujat kitab syiah terang-terangan? Bukankah itu sama dengan menghujat kitabnya sendiri?

Dalam Tafsir Al Ayyasyi terdapat riwayat dari Abu Hamzah At Tsumali, dari Abu Ja’far berkata: Allah mengusap punggung Nabi Adam lalu berteriak pada anak cucunya, sedangkan mereka masih berupa debu, lalu mereka keluar seperti lebah keluar dari sarangnya, dan mereka berkumpul, Allah berkata: wahai Adam, mereka adalah keturunanmu, Aku keluarkan mereka dari punggungmu untuk mengambil perjanjian,…

Abu Ja’far berkata: lalu Allah menunjukkan nama para Nabi beserta umur mereka pada Nabi Adam , lalu Adam membaca nama Nabi Dawud, umurnya adalah 40 tahun, lalu Adam berkata: Wahai Rabbku, sungguh sedikit sekali umur Dawud, dan betapa banyak umurku, Wahai Rabbku, aku ingin menambahkan umur Dawud dari umurku sebanyak 30 tahun, maka tambahkanlah baginya dan kurangilah umurku, lalu Allah menambahkan umur Dawud 30 tahun, dan umur Nabi Adam dikurangi 30 tahun, inilah yang tertulis di sisi Allah. Abu Ja’far berkata: ini seperti dalam firman Allah: Allah menghapus apa yang dikehendaki, dan menetapkan apa yang dikehendaki, dan Dia memiliki Ummul Kitab.

Abu Ja’far berkata: Allah menghapus apa yang tertulis sebelumnya bagi Adam, dan menetapkan bagi Dawud apa yang tadinya tidak tertuliskan, ketika umur Nabi Adam sudah menjelang habis, malaikat maut turun untuk mencabut nyawanya, lalu Nabi Adam berkata padanya, wahai makalikat maut, umurku masih tersisa 30 tahun, malaikat maut menjawab: bukankah sudah engkau jadikan untuk anakmu Dawud, dan engkau telah mengurangkan umurmu, saat Allah menunjukkan nama-nama para Nabi keturunanmu beserta umur mereka, dan saat itu engkau berada di lembah Rauha’? Adam berkata: wahai malaikat maut, aku tidak ingat hal itu, lalu malaikat maut menjawab, wahai Adam jangan lupa, bukankah engkau memohon pada Allah untuk menambahkan pada Dawud dan mengurangi dari umurmu? Lalu Dia menuliskan untuk Dawud dalam Zabur, dan menghapus umurmu? Lalu Nabi Adam berkata, jangan ditulis sebelum aku tahu itu, Abu Ja’far berkata: Nabi Adam tidak berdusta, dia tidak ingat, dan bukan tidak tahu bagaimana cara berkata yang benar, Abu Ja’far berkata: sejak hari itu, Allah memerintahkan hambanya untuk menuliskan hutang dan urusan mereka, sampai waktu tertentu, karena Nabi Adam lupa dan menyangkal.

Lihat dalam :

Tafsir Al Burhan jilid 2 hal 301

Al La’ali’ jilid 1 hal 92 – 94,

Al Anwar an Nu’maniyah jilid 4 hal 201- 202, jilid 1 hal 231,

Tafsir Nur At Tsaqalain jilid 3 hal 464,

Anwar al Wilayah hal 530,

Biharul Anwar jilid 14 hal 8 -9.

Kanz Ad Daqaiq jilid 5 hal 133.

Riwayat ini ada dalam kitab-kitab syiah, tapi ketika ada riwayat yang sama dari Abu Hurairah, abdul husein tidak bisa menerima.

Apa yang terjadi?

Mengapa bisa terjadi?

Readmore...

MENGHUJAT ABU HURAIRAH, MENGHUJAT KITAB SENDIRI (31) NABI ADAM DIHUJAT ABDUL HUSEIN?

 
Menurut abdul husein, tidak pantas Nabi Adam melakukan itu. Tapi ternyata Nabi Adam benar-benar melakukannya.

Abu Hurairah meriwayatkan berikut ini:

Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, “Nabi Adam dan Nabi Musa berbantah-bantahan, Nabi Musa berkata kepadanya, ‘Engkau Adam, kesalahanmulah yang telah mengeluarkanmu dari surga?’ Nabi Adam menjawab, ‘Engkau Musa yang dipilih oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dengan risalahNya dan engkau berbicara secara langsung denganNya, akankah engkau mencelaku atas suatu perkara yang telah ditakdirkan atasku sebelum aku diciptakan? Maka, nabi Adam dapat membantah nabi Musa”. (HR. Muslim).


Kata abdul husein:
Seolah-olah mereka fatalis dan deteminis. Ia menunjukkan bahwa Adam membanjiri Musa dengan banyak alasan yang tidak cocok dengan perilaku para nabi, yang harusnya agung.


Pertanyaan saya, bagaimana jika memang hadits ini benar adanya? Apakah artinya abdul husein menghujat Nabi Adam, yang dapat memberikan hujjah pada Nabi Musa, dan mengatakan bahwa perilaku Nabi Adam tidak cocok dengan perilaku para Nabi?


Subhanallah, para Nabi pun tidak selamat dari hujatan abdul husein. Jika dia berani menghujat para Nabi, sudah tentu dia berani menghujat Abu Hurairah, yang derajatnya di bawah para Nabi.


Bukah hanya Abu Hurairah yang meriwayatkan hadits ini, imam ahlulbait juga meriwayatkan hadits ini:


Abu Abdillah berkata: Nabi Musa memohon pada Allah agar bisa bertemu dengan Nabi Adam, lalu Allah mempertemukan mereka, lalu Musa berkata: wahai ayahku, bukankah Allah menciptakanmu dengan tanganNya, dan meniupkan ruh kepadamu, dan membuat para malaikat sujud padamu, dan memerintahkanmu agar tidak memakan dari pohon itu? mengapa engkau melanggar perintahNya? Adam menjawab: wahai Musa, di taurat, berapa tercantum kesalahanku sebelum aku diciptakan? Musa menjawab: tiga puluh tahun, Adam berkata: inilah jawabnya. Imam As Shadiq berkata: maka Adam dapat mengalahkan Musa.



Tafsir Al Qummi jilid 1 hal 44

Biharul Anwar jilid 5 hal 89

Nur Ats Tsaqalain jilid 1 hal 26

Al Anbiya’ Hayatuhum Wa Qashashuhum hal 28-29

Al Anwar An Nu’maniyah jilid 1 hal 231

Al Burhan jilid 2 hal 7

Minhajul Bara’ah jilid 1 hal 37-38

Tafsir Al Qur’an Al Karim jilid 1 hal 333


Berikut penjelasan dari abdus shahib dalam kitab Al Anbiya, dia berkomentar tentang hadits ini:
Yang difahami dari jawaban Musa pada Adam, bahwa kesalahan ini telah tertulis dan ditentukan terjadi sebelum Adam diciptakan, dan dari alam dzarr, saya berkata: ruh telah diciptakan 2000 tahun sebelum Adam diciptakan, dan terjadi perdebatan besar tentang masalah ini, banyak orang yang celaka karena salah memahami, dan tidak bisa mencerna kenyataan, yaitu masalah takdir Allah bagi manusia sebelum manusia diciptakan.


Termasuk yang tidak dapat memahami masalah ini adalah abdul husein dan pengagumnya di Indonesia
 http://hakekat.com/content/view/113/1/
Readmore...

MENGHUJAT ABU HURAIRAH, MENGHUJAT KITAB SENDIRI (30) APAKAH IMAM JA'FAR AS SHADIQ SEORANG TOLOL?

 
Apakah imam syiah, Ja'far As Shadiq adalah tolol ketika meriwayatkan bahwa Ali mengimami shalat berjamaah dalam keadaan tidak suci?
Lagi-lagi abdulhusein menghujat Abu Hurairah:

Salah satu kemustahilan yang dikatakan oleh Abu Hurairah ialah: Iqamat telah diucapkan dan jamaah salat berdiri dalam baris baris untuk menunaikan salat. Ketika Nabi berdiri hendak mengimami salat, beliau teringat bahwasanya ia sedang berhadas.

Ini adalah nukilan dari buku Abu Hurairah edisi Indonesia.

Jika kita lihat text asli hadits, ternyata  tidak seperti yang terjemahannya ditulis dalam buku edisi Indonesia, karena text asli dalam hadits adalah bukan sedang berhadas, tapi sedang junub. Mari kita lihat text asli hadits dalam bahasa arab:

أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ ، وَعُدِّلَتِ الصُّفُوفُ قِيَامًا ، فَخَرَجَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فَلَمَّا قَامَ فِى مُصَلاَّهُ ذَكَرَ أَنَّهُ جُنُبٌ فَقَالَ لَنَا : « مَكَانَكُمْ » . ثُمَّ رَجَعَ فَاغْتَسَلَ ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَيْنَا وَرَأْسُهُ يَقْطُرُ ، فَكَبَّرَ فَصَلَّيْنَا مَعَهُ 

Iqamat telah diucapkan dan jamaah salat berdiri dalam baris baris untuk menunaikan salat. Ketika Nabi berdiri hendak mengimami salat, beliau teringat bahwasanya ia sedang junub. Lalu dia berkta pada kami: tetaplah di tempat kalian, lalu dia pulang dan mandi, lalu keluar menemui kami dengan kepala yang meneteskan air, lalu bertakbir, dan kami shalat bersamanya.

Tapi oleh penerbit pustaka zahra, sebuah penerbit syiah, sengaja terjemahannya diganti dengan berhadas, bukan junub, karena lanjutan hadits menjelaskan bahwa Nabi SAWW mandi junub, bukan sekedar hadas kecil yang bisa disucikan dengan berwudhu.

Kata abdul husein:

Agunglah Nabi! Ia suci di sepanjang waktu. Beliau selalu berwudu. Seluruh nabi adalah maksum dan jauh dari apa yang diocehkan oleh orang tolol ini. Jika apa yang ian katakan dinisbatkan pada Mukmin yagn alim dan saleh, jauh dari para nabi, hal itu akan menghinakan mereka, lalu bagaimana dengan para nabi?

Rupanya abdul husein terlupa, bahwa imam maksum, yaitu Imam Ja’far As Shadiq,  telah menggariskan bahwa Nabi, Ali, Hasan dan Husein boleh berjunub di masjid.

Muhammad bin Hamran bertanya pada Abu Abdillah tentang orang yang sedang dalam keadaan junub duduk di masjid. Jawab Abu Abdillah: jangan, tetapi hanya lewat saja di masjid, kecuali di masjidil Haram dan masjid Madinah.

Lalu Abu Abdillah menyebutkan riwayat dari Nabi SAWW: tidak boleh ada yang tidur dan junub di masjid. Dan juga Nabi SAWW bersabda: Allah mewahyukan kepadaku untuk mensucikan masjid [dari najis dan kotoran], dan tidak halal orang untuk junub di dalam masjid kecuali saya, Ali, Hasan dan Husein.

Tahdzibul Ahkam jilid 6 hal 15

Begitu Abu Abdillah menceritakan bahwa Ali shalat dalam keadaan berhadas, tidak suci.
Abu Abdillah berkata: Ali shalat mengimami manusia dalam keadaan tidak suci, yaitu shalat dhuhur, lalu dia masuk ke rumahnya, dan pesuruhnya keluar dan berteriak bahwa Amirul Mukminin shalat menjadi imam dalam keadaan tidak suci, maka ulangilah shalat kalian, hendaknya yang hadir menyampaikan pada yang tidak hadir.


Apakah abdul husein berani menghujat imam maksum?

Apakah Abu Abdillah juga seorang tolol ketika menceritakan Ali shalat dalam keadaan tidak suci?

Mengapa imam maksum tidak dihujat walau menyampaikan hadits yang sama, bahkan lebih parah dari Abu Hurairah?

Memang tujuan utama abdul husein adalah untuk membuat orang beriman ragu pada hadits Nabi SAWW, maka dia membunuh karakter dari perawi hadits. Jika abdul husein bersifat jujur, maka dia harus konsisten dengan hujatannya pada sahabat Nabi SAWW, yaitu harus menghujat imam maksumnya juga.

Dan riwayat-riwayat dari imam maksum yang sama, atau lebih parah dari Abu Hurairah memang sengaja disembunyikan rapat-rapat. Tapi, bau busuk bangkai mulai tercium juga. Bukan hanya tercium, orang sudah bisa melihat bangkai busuk yang dikubur oleh abdul husein dan syiah.
 
http://hakekat.com/content/view/112/1/
Readmore...

MENGHUJAT ABU HURAIRAH, MENGHUJAT KITAB SENDIRI (29) ABDUL HUSEIN MENGHUJAT ULAMA SYIAH

 
Lagi-lagi abdul husein menghujat hadits Abu Hurairah, yang diterima oleh ulama syiah sendiri.
Seperti biasa, abdul husein juga menghujat lagi riwayat dari Abu Hurairah. Katanya:

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi telah bersabda,”Tidak seorang pun yang akan dimasukkan ke dalam surga karena amal-amalnya..” Mereka berkata, “Tidak juga engkau, Rasulullah,” beliau bersabda,”Tidak juga aku.”

Inilah lafal hadits yang tertulis di buku Abu Hurairah halaman 173

Kata abdul husein tentang hadis ini:

Hadis ini harus dibuang karena bertentangan dengan Al Qur’anul Karim. Allah berfirman:

Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu akan dibalas. Surat Al Insan 22.

Menurut abdul husein, hadis ini harus dibuang. Tapi tidak menurut ulama syiah, karena hadits ini tidak dibuang dari tafsir-tafsir syiah. Artinya, ulama syiah sendiri mengakui hadits ini. Bukan satu dua buku tafsir yang memuat hadits ini:

.. diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda: demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak ada satu manusia pun yang masuk sorga karena amalnya, lalu mereka bertanya: Tidak juga engkau wahai Rasulullah? Jawab Rasul: tidak juga diriku, kecuali bila Allah mencurahkan rahmatNya padaku….

Riwayat ini tercantum dalam kitab-kitab syiah berikut:

Majma’ul Bayan, jilid 3 hal 23

Tafsir As Shafi jilid 2 hal 111

Tafsir Nur At Tsaqalain jilid 1 hal 706

Kanz Ad Daqaiq jilid 3 hal 251

Al Jauhar At Tsamin jilid 2 hal 242

Al Mahajjah jilid 7 hal 190

Biharul Anwar jilid 7 hal 11

Tafsir Min Hadyi Al Qur’an jilid 13 hal 489

Apa yang dialami oleh abdul husein adalah rasa dengki dan benci yang memuncak pada Abu Hurairah. Dengki dan benci yang membuatnya gelap mata, lalu menolak hadits yang diterima oleh ulama-ulama syiah.

Apakah ulama syiah yang menuliskan hadits itu keliru, dan tidak memahami bahwa hadits itu bertentangan dengan ayat Al Qur'an?

Ketika abdul husein menyuruh membuang riwayat-riwayat itu, dia sedang menghujat ulama syiah sendiri.

http://hakekat.com/content/view/111/1/
Readmore...

MENGHUJAT ABU HURAIRAH, MENGHUJAT KITAB SENDIRI (28) SETIAP NABI PERNAH MENGGEMBALA KAMBING

 
Abu Hurairah meriwayatkan hadits bahwa setiap Nabi pernah menggembala kambing. Kata abdul husein, hadits itu tidak pernah ada. Apakah omongan abdul husein adalah benar?
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi telah bersabda “ tidak ada Nabi yang diutus oleh Allah, melainkan ia menggembala domba.Hadits ini tercantum dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

Rupanya abdul husein tidak senang pada hadits ini, lalu berkata:

Hadis ini tidak diragukan lagi, tidak pernah ada.

Demikian yang dikatakan oleh abdul husein. Tapi jangan percaya begitu saja pada abdul husein. Ternyata hadits itu juga ada dalam kitab syiah, tepatnya dalam kitab Biharul Anwar jilid 6 hal 226:

Nabi bersabda: saya melihat ke onta dan kambing yang sedang saya gembalakan, setiap Nabi pasti pernah menggembala kambing.....

Lihat juga dalam Al La’ali’ jilid 5 hal 24, Al Mahajjah Al Baidha jilid 4 hal 128, Ikmaluddin hal 491,

Apa yang dikatakan oleh abdul husein sebagai tidak ada, ternyata kita temukan juga dalam kitab syiah.

Apakah kita bisa percaya pada abdul husein?

Apakah kita bisa percaya pada ustadz syiah?
 http://hakekat.com/content/view/110/1/
Readmore...

MENGHUJAT ABU HURAIRAH, MENGHUJAT KITAB SENDIRI (27) ABDUL HUSEIN MENENTANG IMAM MAKSUM

 
Demi dendamnya pada Abu Hurairah, abdul husein rela untuk menghujat hadits imam maksum.
Abu Hurairah menyampaikan hadits bahwa Nabi melarang memakai satu sandal. Hadits ini tercantum dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan beberapa kitab lainnya.

Tidak ketinggalan abdul husein ikut berkomentar mengenai hadis ini. Katanya:

Ia meriwayatkan sebuah hadis bahwa Nabi telah melarang berjalan dengan satu sepatu. Setelah Aisyah mendengar hadis itu, dia berjalan memakai satu sepatu serta berkata bahwa ia  hendak menentang Abu Hurairah.

Sayangnya, abdul husein tidak menyertakan referensi mengenai kisah Aisyah yang menentang Abu Hurairah.

Intinya, abdul husein ingin menunjukkan pada pembaca bahwa Aisyah menolak hadis Abu Hurairah, maka hadis Abu Hurairah tidak lagi bisa diterima. Jika Aisyah saja menentang hadis Abu Hurairah, maka orang lain lebih layak menentangnya.

 Tapi rupanya abdul husein tidak sadar, ternyata hadits itu juga diucapkan oleh imamnya yang maksum.

Dalam kitab Biharul Anwar, jilid 76 hal 328-329, dari As Shadiq, dari ayahnya, dari ayahnya lagi, sampai ke Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib berkata: …. Dan Nabi melarang berjalan memakai satu sandal…..

Juga dalam kitab yang sama, jilid 80 hal 191, dari Abu Bashir, dari Muhammad al Baqir berkata: …. Jangan berjalan di satu sandal……..

Dendam dan dengki pada Abu Hurairah membuat mata abdul husein jadi buta, atau memang dia belum pernah membaca hadits itu dalam Biharul Anwar.

Maunya melampiaskan kebencian pada Abu Hurairah, tapi abdul husein malah membuka aib sendiri.

Ada pepatah arab yang artinya:

Siapa yang membuat lobang agar saudaranya jatuh ke dalamnya, dia sendiri yang jatuh.


 
http://hakekat.com/content/view/109/1/
Readmore...

MENGHUJAT ABU HURAIRAH, MENGHUJAT KITAB SENDIRI (26) MENGHUJAT HADITS YANG TAK LAYAK DIHUJAT

 
Riwayat Abu Hurairah dihujat oleh abdul husein, ternyata riwayat itu tidak bisa jadi pegangan. Ini semua dilakukan demi melampiaskan dendam membara pada Abu Hurairah. Abu Hurairah mengatakan bahwa pada suatu saat, dia bersama dengan al Ala’ bin al Hadhrami diutus ke Bahrian bersama dengan empat ratus pasukan. Mereka berangkat sampai mencapai sebuah teluk di laut, yang tidak seorang pun pernah pergi ke sana sebelumnya ataupun tak seorang pun akan pergi setelah mereka. Al Ala’ menarik tali kekang kudanya serta berjalan di atas air. Pasukan mengikutinya. Abu Hurairah bersumpah demi Allah bahwa kaki-kaki mereka ataupun kuku hewan-hewan mereka tidak basah.

Sebelum mengutip hadits ini, abdul husein berkata:

Betapa senangnya ia dengan berbagai peristiwa yang menakjubkan dan di luar dari kelaziman.

Lalu abdul husein mengutip hadits ini, kemudian berkata:

Jika memang benar, pesitiwa itu akan diriwayatkan oleh setiap orang dari pasukan tersebut, yang jumlahnya empat ratus orang. Mengapa hadits itu hanya diriwayatkan oleh Abu Hurairah saja?

Perlu kita ketahui, para ulama sepakat bahwa cerita di atas adalah dhaif. Dari sumbernya saja kita bisa curiga  bahwa hadits ini tidak shahih. Hadits –hadits shahih biasanya ada pada sumber yang jelas, yaitu kitab-kitab hadits yang memuat hadits shahih, seperti shahih Bukhari dan Muslim, lalu di kitab-kitab sunan. Tapi ini bukan berarti hadits shahih hanya ada di kitab-kitab itu.

Dalam bukunya, abdul husein menyebutkan sumber riwayat ini, yaitu :
Disebutkan oleh Abu Bakar bin Muhammad al Walid al Fihri at Tartusyi, yang terkenal dengan nama Ibnu Randa. Ad Dimyari mengutip hadis ini dalam kitabnya Hayat al Haiwan. Juga disebutkan dalam Isti’ab dan al Ishabah.

Hadits ini dikutip abdul husein dalam rangka menunjukkan bahwa banyak hadits Abu Hurairah yang keluar dari kelaziman. Itu kata abdul husein, seolah-olah dalam kitab syiah tidak ada hal-hal yang luar biasa. Di sini abdul husein ingin melampiaskan kebenciannya pada Abu Hurairah
Dalam makalah-makalah situs ini sebelumnya, pembaca bisa melihat hal yang “menakjubkan” dari kitab syiah.

Di sini kami akan menambahkan lagi cerita-cerita aneh dari kitab-kitab syiah. Semoga orang-orang yang terpedaya oleh abdul husein bisa melihat bahwa riwayat-riwayat syiah lebih menakjubkan dari riwayat Abu Hurairah.

Imam terbang di udara, jilid 2 hal 11, riwayat no 356.

Penyusun kitab Al Muntakhab meriwayatkan bahwa Ali melewati benteng yang dirantai, lalu dia menyuruh orang membawa pedang dan tameng dari kulit, lalu menaroh perisai di bawah kakinya dan pedang di bawah lututnya, lalu Ali terbang di udara menaiki perisainya, lalu turun di tembok benteng dan memukul rantai dengan pedangnya…

Hal 11-12, riwayat 357, Ali mengikuti burung yang mengambil khuffnya.

Khuff adalah kaos kaki dari kulit.

Dari Ibnu Abi Jamilah, dari Abu Abdullah berkata: Pada suatu malam, Ali melepas khuffnya untuk berwudhu, lalu Allah mengutus seekor burung lalu mengambil salah satu khuffnya, lalu Ali terbang mengejar burung itu, sampai waktu subuh tiba, lalu burung itu melemparkan khuffnya…
Saya jadi teringat kisah brama kumbara, yang populer waktu saya masih kecil.

Dalam jilid 5 hal 10, riwayat no 1422, Imam Muhammad Al Baqir membuat gajah dari tanah, lalu menaiki gajah itu dan terbang ke Mekkah.

Jabir bin Yazid Al Ju’fi berkata: aku melihat tuanku Al Baqir membuat gajah dari tanah, lalu dia menaikinya dan terbang ke mekah, serta pulang dengan masih menaiki gajah. Aku tidak percaya hal itu sampai aku bertemu dengan imam Al Baqir, aku bertanya padanya: Jabir menceritakan padaku bahwa engkau begini begitu. Lalu Imam Al Baqir membuat gajah dari tanah dan menaikinya bersamaku menuju ke Mekkah, lalu kembali lagi.

Tentang laut terbelah, riwaya no 1917

Dari Dawud Ar Raqqi: seseorang menemui Abu Abdillah dan bertanya: sampai sejauh mana ilmu kalian? Abu Abdillah menjawab: sebanyak pertanyaan kalian, … lalu Abu Abdillah memegang tangan orang itu, lalu berjalan sampai ke tepi pantai, lalu berkata, wahai hamba yang taat pada RabbNya, perlihatkan pada kami apa yang ada di dalammu, lalu laut terbelah, dan nampak air yang putih, lebih putih dari susu, lebih manis rasanya daripada madu, lebih harum baunya dari wewangian,… lalu dia mengangkat kepalanya dan melihat di udara seekor kuda yang berpelana dan bertali kekang, kuda itu bersayap, lalu aku bertanya: wahai Abu Abdillah, kuda apa ini? Jawabnya: ini adalah kuda milik Al Qaim (yaitu imam mahdi)

Imam turun dari langit membawa tombak, riwayat no 1945

Dari Ibrahim bin Aswad, dia berkata: saya melihat Musa bin Ja’far naik ke langit dan turun membawa tombak dari cahaya.

Jilid 3 hal 232, riwayat no 851

Dari Jabir, dia berkata: saya melihat Hasan bin Ali naik ke langit lalu menghilang, lalu turun tiga hari kemudian, dia nampak tenang…

Masih banyak lagi mukjizat-mukjizat para imam, tercantum dalam kitab Madinatul Ma’ajiz sebanyak 8 jilid. Banyak sekali, lebih banyak dari mukjizat para Nabi.

Sekali lagi kita bisa memahami, karena syiah tidak memiliki bukti dari Al Qur’an dan sunnah tentang kebenaran mazhabnya.

Dan kita sudah berkali-kali bertanya, kemana mukjizat-mukjizat itu ketika menghadapi Abubakar, Umar dan Muawiyah?

Kemana mukjizat Ali bin Abi Thalib ketika Fatimah digampar oleh Umar?

Tapi tidak pernah ada jawaban.

Riwayat-riwayat syiah yang di luar kelaziman lebih banyak daripada riwayat Abu Hurairah, apalagi ternyata riwayat Abu Hurairah yang dihujat oleh abdul husein adalah riwayat palsu. Tapi semua ini luput dari pengamatan abdul husein, ulama besar syiah yagn menjadi idola syiah di Indonesia.

 
http://hakekat.com/content/view/108/1/
Readmore...

MENGHUJAT ABU HURAIRAH, MENGHUJAT KITAB SENDIRI (25) APAKAH ULAMA SYIAH SAKIT AKALNYA?

 
Abu Hurairah dianggap sakit otaknya karena meriwayatkan sebuah hadits. Ternyata hadits itu juga dipercaya oleh ulama syiah.
Abu Hurairah meriwayatkan hadits berikut:

Abu Hurairah berkata: "Rasulullah saw pernah menugaskan diriku untuk menjaga kurma zakat, lalu tugas itu aku jalankan. ketika aku sedang bertugas, tiba-tiba muncullah seorang lelaki yang sudah tua mendahuluiku, lalu mengambil kurma dan memasukkannya kedalam wadahnya. Aku tangkap dia, tetapi dia mengadu kepadaku bahwa yang membuatnya demikian adalah karena anak-anaknya kelaparan, sedang dia orang miskin dan tidak mampu. Akhirnya, aku kasihan juga kepadanya dan kulepaskan dia dengan syarat tidak mrngulangi lagi perbuatannya.

Pada malam yang kedua dia datang dan mengambil kurma lagi, maka aku pegang pakaiannya dan aku berniat melaporkannya kepada Rasulullah saw. Akan tetapi, dia mengadu kepadaku dan menggerutu tentang kemiskinannya dan kebutuhan yang dialaminya, sedang anak-anaknya banyak. Akhirnya dia kulepaskan lagi.

Pada malam ketiga dia datang lagi, lalu aku tangkap dia. Ia mengadu lagi kepadaku, tetapi kali ini dia tidak aku biarkandan aku bertekad akan menyerahkannya kepada Rasulullah saw.
Lelaki itu berkata:"Lepaskanlah aku! Aku akan mengajarkanmu suatu ayat bila kamu membacanya pada malam harimu, maka kan ada penjaga yang memelihara kamu dari gangguan setan."
Para sahabat adalah orang-orang yang sangat getol kepada kebaikan. Oleh karena itu, Abu Hurairah bertanya:"Ayat apakah itu?" Setan pun membaca ayat kursi, yaitu firman-Nya: Surat Al-Baqarah ayat 255, yang artinya:

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi161 Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Sesudah itu Abu Huraiorah ra melepaskannya. Selanjutnya Abu Hurairah pergi dan menceritakannya kepada Rasulullah saw, lalu Rasul tersenyum dan berssabda: "Tahukah kamu, siapa yang kamu ajak bicara sejak tiga malam terakhir, hai Abu Hurairah?" Abu Hurairah menjawab: "Tidak, wahai Rasulullah." Rasulullah saw bersabda: "Dia adalah setan. Ketahuilah sesungguhnya dia berkata benar kepadamu, sedang dia adalah pendusta.(HR Bukhari dan Muslim)


Kata abdul husein:

Ini adalah takhayul, yang siapa pun tidak akan mempercayainya kecuali mereka yang tidak berakal atau sedang sakit otaknya. Dengan hadis ini, Abu Hurairah mersot ke dalam lubang yang dalam.

Katanya lagi:

Alangkah anehnya cerita-cerita yang Abu Hurairah sampaikan kepada kita tentang setannya! Terkadang, ia berkata bahwa setan datang untuk mencuri beberapa makanan demi anak-anaknya. Pada waktu yang lain, ia katakan bahwa setan akan lari menyingkir dengan kentutnya, apabila mendengar suara azan.


Al Majlisi menuliskan hadits yang sama dalam Biharul Anwar jilid 63 hal 297,
 
Riwayat yang serupa dapat dilihat dalam Biharul Anwar jilid 63 hal 316-317, juga pada jilid yang sama hal 112-113

Dari Abu Ayyub Al Anshari berkata: saya memiliki tempat penyimpanan korma, ada hantu yang nampak seperti cahaya sering datang dan mengambil korma, lalu kami mengadukan hal itu pada Rasulullah.  Lalu Rasulullah bersabda: kembalilah, jika engkau melihatnya lagi, katakan : bismillah, datanglah menemui Rasulullah SAWW. Lalu aku mengambilnya, dan dia bersumpah tidak kembali lagi. Lalu Abu Ayyub melepaskannya, Lalu Abu Ayyub menemui Rasulullah, dan Rasulullah bertanya: apa kabarnya tawananmu?  Rasulullah bersabda: dia berbohong, dan dia akan kembali lagi, lalu dia datang dan Abu Ayyub menangkapnya, dan berkata: aku tidak akan meninggalkanmu sampai aku membawamu menemui Rasulullah, lalu dia berkata : aku akan akan memberitahumu sesuatu: ayat kursi, bacalah di rumahmu, maka tidak akan ada setan atau lainnya yang mendekatimu. Lalu Abu Ayyub menemui Rasulullah, dan Rasulullah bertanya: apa kabarnya tawananmu? Lalu Abu Ayyub memberitahukan pada Rasulullah, lalu Rasulullah bersabda: dia berkata benar, meski dia adalah pembohong

 Tidak ada masalah dengan hadits ini bagi mereka yang beriman pada Al Qur’an dan Sunnah, AL Majlisi menuliskan hadits yang diingkari oleh abdul husein, dalam binarul Anwar jilid 63 hal 315:

Dari Suhail bin Abi Shalih berkat: ayahku mengutusku ke Bani Haritsah, saya bersama seorang teman, atau budak, lalu ada suara seseorang memanggil nama budak atau kawanku tadi dari sebuah kebun, lalu orang yang bersamaku tadi melihat ke dalam kebun tapi tidak melihat seorang pun disana, lalu aku menceritakan apa yang terjadi pada ayahku, lalu dia berkata: jika aku tahu kamu akan menemui kejadian tadi, aku tidak akan mengutusmu, tapi jika kamu mendengar suara seperti itu, maka adzanlah, aku mendengar Abu Hurairah menceritakan hadits bahwa Rasulullah bersabda : jika dikumandangkan adzan, setan akan menyingkir.

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah: Nabi bersabda: 
jika setan mengganggu kalian maka kumandangkan adzan, karena jika mendengar adzan, setan lari sambil kentut.
Al Muhaqqiq Al Ahsan’I juga meriwayatakan hadits ini dalam kitab Al Awali, jilid 1 hal 409: diriwayatkan dalam hadits : jika ada yang mengumandangkan adzan, setan lari sambil kentut.

Riwayat ini juga tercantum dalam Mustadrak Wasa'il Syi'ah jilid 4 hal 73, dalam pembahasan Adzan dan Iqamat.

Bukan lagi percaya, ulama syiah menuliskan hadits serupa dari para Imam Ahlulbait.
Apakah kita bisa mengatakan bahwa para ulama syiah sakit akalnya?

http://hakekat.com/content/view/107/1/
Readmore...

MENGHUJAT ABU HURAIRAH, MENGHUJAT KITAB SENDIRI (24) APAKAH IMAM SYIAH JAUH DARI AL QUR'AN?

 
Abu Hurairah dibilang jauh dari Al Qur'an ketika meriwayatkan sebuah hadits. Imam Ali Zainal Abidin juga meriwayatkan hadits yang sama. Abu Hurairah meriwayatkan hadits berikut:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : "Ada seseorang yang keterlaluan terhadap dirinya. Ketika menjelang mati ia berkata kepada anak-anaknya : "Jika saya mati bakarlah saya, remukkanlah saya kemudian taburkanlah saya di angin. Demi Allah jika Tuhanku mampu terhadapku niscaya Dia menyiksaku dengan siksaan yang tidak ditimpakan kepada orang lain". Ketika ia meninggal, hal itu dilaksanakan terhadapnya. Tiba-tiba ia dapat berdiri (setelah dihidupkan lagi) lalu Allah berfirman : "Apakah yang mendorongmu untuk berbuat demikian itu ?" Ia menjawab : "Wahai Tuhanku, yang mendorong adalah ketakutanku kepadaMu". Lalu Allah mengampuninya". Selain Abu Hurairah berkata : "Takut kepadaMu wahai Tuhan-ku


Kata Abdul Husein:

Al Qur’an yang suci dan sunah jauh dari hadis ini dan gayanya. Anggaplah bahwa wasiat orang yang berlebihan dalam dosa ini nyata serta menjadi jalan untuk dimaafkan dosa-dosanya oleh Allah, Nabi tidak akan menyampaikannya tanpa suatu komentar.

Kisah ini adalah gambaran tentang ampunan Allah pada orang-orang yang banyak maksiat sekalipun. Kisah ini memiliki pesan bahwa kita jangan berputus asa pada rahmat Allah. Kisah serupa juga diriwayatkan oleh imam syiah, Ali Zainal Abidin.

Dalam Al Anwar an Nu’maniyah, jilid 4 hal 276,  As Shaduq meriwayatkan dengan sanadnya sampai Imam Zainal Abidin Ali bin Husein, Ali bin Husein berkata: salah seorang dari Bani Israil, dia selalu membongkar kubur untuk mengambil kafan, salah seorang tetangganya sakit, dan takut akan mati, dia mengutus orang untuk menemui si pembongkar kubur, lalu si pembongkar kubur datang menemuinya. Si tetangga bertanya: bagaimana keadaanku selama menjadi tetanggamu? Si pembongkar menjawab: engkau adalah tetangga yang terbaik, si tetangga bertanya: saya ingin meminta bantuanmu, si pembongkar menjawab: saya akan melakukannya, lalu si tetangga mengeluarkan dua kafan, dan berkata: saya ingin kamu mengambil satu yang engkau suka, tapi nanti jika aku telah dikubur, jangan engkau bongkar kuburanku, si pembongkar menolak mengambil kafan, tapi si tetangga memaksanya, dan akhirnya si pembongkar kubu mengambil satu kafan yang dia suka, lalu si tetangga akhirnya mati. Setelah dikubur, si pembongkar berkata: dia sudah dikubur, bagaimana dia tahu saya mengambil kafannya atau tidak? Aku akan mengambilnya. Dia mendatangi kuburnya dan mulai menggali, lalu dia mendengar suara berteriak: jangan kau ambil! Lalu dia takut, dan tidak lagi mengambil kafan di kuburan. Lalu si pencuri kafan bertanya pada anaknya: bagaimana aku selama menjadi ayah kalian? Engkau adalah ayah terbaik bagi kami. Si pencuri berkata: saya ingin memohon bantuan kalian.  Anak-anaknya menjawab: Insya Allah kami akan melakukannya, saya ingin jika nanti saya mati, bakarlah jasadku dengan api, jika sudah menjadi abu, haluskanlah abuku, tunggulah angin yang kencang, tebarkan setengah abuku di laut, dan setengahnya di darat, ketika orang itu  mati, anaknya melaksanakan wasiat ayahnya, ketika anak-anaknya menebarkan abu, Allah berfirman pada daratan: kumpulkan apa yang ada di atasmu, dan berfirman pada laut: kumpulkan apa yang ada di dalammu, orang itu berdiri di hadapan Allah, lalu Allah bertanya: mengapa engkau mewasiatkan anak-anakmu untuk melakukan itu? Dia menjawab: demi kemuliaanMu, aku melakukan itu karena takut padaMu, lalu Allah berfirman: Aku akan membuat musuh-musuhmu ridha padamu, Aku telah menghilangkan takutMu dan mengampunimu.
Apakah Imam Ali Zainal Abidin juga jauh dari Al Qur’an?
http://hakekat.com/content/view/106/1/
Readmore...

MENGHUJAT ABU HURAIRAH, MENGHUJAT KITAB SENDIRI (23) APAKAH IMAM SYIAH IKUT BERKHAYAL?

 
Abu Hurairah meriwayatkan hadits, abdul husein bilang dia berkhayal. Ternyata hadits yang sama juga diriwayatkan dari imam syiah. Apakah imam syiah ikutan berkhayal?

Abu Hurairah meriwayatkan hadits tentang seorang wanita yang masuk neraka karena seekor kucing, ia mengikatnya. Ia tidak memberinya makan ataupun membiarkannya hidup dari serangga.

Abu Hurairah juga meriwayatkan hadits dari Nabi tentang seorang pelacur yang memberi minum seekor anjing lalu diampuni dosanya. Juga hadits dengan tema yang sama, namun pelakunya adalah seorang laki-laki.

Tiga hadits ini disebutkan abdul husein secara berurutan. Setelah hadits terakhir, abdul husein berkomentar:

Hadis ini dan satu hadis sebelumnya muncul dari imajinasi Abu Hurairah untuk menunjukkan hasil baik dari rasa sayang dan kasih.

Hadits-hadits di atas menjelaskan tentang hal yang ghaib, yaitu ampunan dan azab Allah, yang mana hal-hal yang ghaib adalah tidak bisa diukur oleh akal manusia. Ini karena akal manusia adalah terbatas. Hadits di atas menjelaskan tentang akibat perlakuan pada hewan, baik perlakuan baik maupun buruk.

Allah membalas kebaikan yang dilakukan oleh manusia, meski orang itu berlaku baik pada hewan yang dianggap hina oleh banyak orang, seperti anjing. Sebaliknya, Allah menghukum mereka yang berlaku buruk pada hewan, memenjarakan hewan, tidak memberinya makan hingga mati.

Inilah pemberitahuan dari Allah tentang alam akherat, sebuah pelajaran bahwa kita harus berhati-hati, sekaligus berita gembira, bahwa ternyata untuk meraih keridhoan Allah bisa dengan cara yang tidak sulit, seperti berbuat baik pada anjing dan kucing.

Tapi abdul husein tidak bisa menerima semua ini. Dia tidak bisa menerima ketika Allah mengampuni dosa seorang pendosa karena berbuat baik pada anjing. Dia juga tidak bisa menerima ketika Allah mengazab seorang wanita karena memenjarakan kucing. Barangkali menurut abdul husein, perbuatan menghilangkan nyawa seekor kucing, yang mengakibatkan orang diazab, bukanlah perbuatan besar.

Seperti biasanya, riwayat-riwayat dalam kitab syiah lebih seru daripada riwayat Abu Hurairah. Tapi abdul husein tidak berani menghujat riwayatnya sendiri.

Ayatullah Mulla Zainal Abidin Al Kalbaikani, seorang ulama syiah, dalam kitabnya Anwarul Wilayah hal 338 mengatakan:

Dalam riwayat : seorang pelacur, yang bertetangga dengan ahli maksiat dan orang-orang yang sering merayakan duka cita Imam Husein, dia mengambil api dari majelis duka cita, dan dia mendapati apinya mati, lalu dia menyalakan dan meniupnya, hingga air matanya keluar karena terkena asap, lalu Allah mengampuninya dan dia pun bertobat.

Dalam riwayat Abu Hurairah, si pendosa menyelamatkan nyawa seekor makhluk hidup. Sementara dalam riwayat di atas, dia hanya menghidupkan api, akhirnya dia diampuni. Jangan sampai pembaca lupa, api adalah simbol utama agama majusi. Syiah ingin menghidupkan lagi ajaran majusi, makanya untuk menggalakkan lagi simbol majusi, syiah membuat cerita bahwa ada orang diampuni karena menyalakan api.

Memang mengherankan, bagaimana sekedar menyalakan api perayaan duka cita bisa membuat orang diampuni dosanya.

Riwayat berikut lebih seru lagi:

Dari Abul Ahwash dari ayahnya dari Ammar As Sabathi berkata: Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib datang ke Madain, lalu mengunjungi istana Kisra, dia bersama Dalf bin Buhair Kisra di tempat di sini dan di situ, Dalf berkata: Ali terus berjalan mengelilingi seluruh ruangan dan orang yang ada di dalamnya, dan Dalf berkata: wahai tuanku, seolah-olah engkau yang meletakkan semua ini di tempat ini. Lalu Ali melihat tulang tengkorak yang sudah keropos, lalu berkata pada sebagian orang yang ada bersamanya: ambillah tengkorak itu, lalu Ali datang ke singgasana dan duduk di atasnya, lalu menyuruh orang mengambil bejana yang berisi air, lalu berkata pada orang yang membawa tengkorak: letakkan tengkorak itu di bejana, lalu berkata: aku bersumpah padamu, kamu harus memberitahukan siapa aku dan siapa kamu, lalu tengkorak itu menjawab dengan fasih: engkau adalah Amirul Mukminin, sayyid para washi dan imam orang bertakwa, sedangkan saya adalah hambamu dan anak dari hambamu Kisra Anusyirwan, lalu Amirul Mukminin berkata: bagaimana kabarmu? Lalu dia menjawab: Wahai Amirul Mukminin, saya dulunya adalah seorang raja yang adil, menyayangi rakyat, tidak ridho terhadap kezhaliman, tapi saya memelik agama majusi, sedangkan Muhammad telah lahir pada zaman kekuasaanku, dan 23 teras istanaku roboh pada malam ketika dia dilahirkan, saya berniat untuk beriman padanya karena mendengar banyak berita tentang kemuliaan dan ketinggiannya di langit dan di bumi, begitu juga kemuliaan ahli baitnya, tapi saya sibuk dengan mengurus kerajaan hingga terlupa itu semua, betapa banyak nikmat dan keutamaan yang hilang dariku karena aku tidak beriman, saya benar-benar rugi karena tidak beriman, tapi meskipun saya kafir, Allah menyelamatkan saya dari siksa neraka karena keadilanku pada rakyat, saya berada di dalam neraka tapi api neraka tidak menyentuh badan saya, betapa saya rugi, anda saja saya dulu beriman, tentunya saya hari ini bersama kalian wahai penghulu ahli bait Muhammad dan Amirul Mukminin.  Al La’ali jilid 4 hal 327-328, As Shahafiyah jilid 2 hal 84, Al Qathrah hal 88, Al Fadhail hal 71

Kisra tidak beriman pada Allah, menolak beriman pada Nabi Muhammad, tapi dia selamat dari siksa karena keadilan. Yang lebih lucu lagi, tengkorak Kisra bersaksi bahwa Ali adalah Amirul mukminin.

Melihat riwayat ini, syiah akan gembira dan berkata: satu lagi dalil bahwa Ali adalah Amirul Mukminin, tengkorak Kisra yang sudah keropos saja bersaksi, mengapa orang-orang yang hidup enggan mengakui bahwa Ali adalah Amirul Mukminin?

Syiah gembira dengan riwayat-riwayat seperti ini, meski tidak bisa dicerna akal sehat. Banyak syiah yang mengajak kita untuk berpikir kritis. Tapi rupanya sikap kritis itu ada perkecualiannya, yaitu ketika menghadapi riwayat kitab syiah dan ucapan marja’.

Syiah bergembira melihat riwayat-riwayat seperti ini, tapi ketika melihat pada Al Qur’an, mereka bersedih, mereka berduka cita karena tidak menemukan dalil-dalil yang jelas tentang kebenaran mazhabnya, makanya mereka membuat riwayat-riwayat yang lucu itu. 

Selain itu, kitab-kitab syiah juga memuat kisah-kisah yang menurut ulama syiah adalah mulia. Kisah apa yang dibilang mulia?

At Tusirkani mengatakan dalam kitabnya berjudul Al La’ali, jilid 4 hal 217 – 218 :

Dan engkau mendatangi mutiara, kami akan mengisahkan padamu kisah-kisah, agar hatimu menjadi tenang, yang telah lalu yaitu kisah yang mulia, dari seorang laki-laki yang selalu berbuat homosexual dengan seorang anak laki-laki, dia mencintai anak itu…

Ternyata kitab syiah juga ikut memuat hadits yang sama dengan Hadits riwayat Abu Hurairah:

Dari Musa bin Ismail bin Musa, dari ayahnya, dari kakeknya Musa bin Ja’far, dari ayah dan kakekanya, berkata: Rasulullah berkata: saya melihat di neraka si pencuri baju dari ghanimah yang belum dibagi, saya juga melihat si pemilik kucing, dia dicakar oleh kucing bagian belakang dan depan tubuhnya, dia mengurung kucing itu, tidak memberinya makan dan tidak membiarkannya mencari makan, saya masuk ke sorga dan melihat orang yang memberi minum anjing.
 Biharul Anwar jilid 8 hal 316-317,

 Biharul Anwar jilid 65 hal 65,

Nawadir Ar Rawandi hal 28


NI’matullah Al Jazairi dalam Al Anwar An NU’maniyah jilid 4 hal 66:

Di antara berita yang membuat hati gembira, yaitu sebuah riwayat yang mengisahkan seorang dari Bani Israil yang tenggelam dalam perbuatan maksiat, ketika dia bepergian jauh, dia menghampiri sumur, ada seekor anjing yang menjilat tanah karena kehausan, lalu hatinya tersentuh, dia mengambil serbannya dan mengikat sepatunya dengan serban, lalu dia mengambil air dan memberi minum anjing itu. Lalu Allah mewahyukan pada Nabi yagn ada di zaman itu, bahwa Aku telah berterimakasih atas perbuatannya dan mengampuni dosanya, karena kasih sayangnya pada makhlukKu, dia mendengar berita itu lalu bertobat dari maksiat, itu menjadi jalannya menuju tobat dan selamat dari hukuman.

Riwayat ini juga tercantum dalam Biharul Anwar jilid 65 hal 65


Kata abdul husein, riwayat Abu Hurairah adalah dari hasil khayalannya. Rupanya para imam syiah tak ketinggalan ikutan berkhayal.

http://hakekat.com/content/view/105/1/
Readmore...

MENGHUJAT ABU HURAIRAH, MENGHUJAT KITAB SENDIRI (22) APAKAH IMAM SYIAH ADALAH SEORANG PANDIR?

 
Abu Hurairah disebut pandir oleh abdul husein karena meriwayatkan hadits bahwa Allah merubah suatu kaum Bani Israil menjadi tikus. Tapi riwayat yang lebih parah diriwayatkan dari Ali, bahwa ikan lele dulunya adalah kaum Bani Israil yang menolak berwilayah pada Ali bin Abi Thalib!!!
Abu Hurairah meriwayatkan hadits berikut ini:

Nabi saw bersabda, “ sebuah bangsa Israil hilang dan mereka tidak tahu apa yang telah mereka lakukan. Kupikir mereka telah berubah bentuk menjadi tikus-tikus, sebab ketika tikus-tikus itu diberikan susu unta, mereka tidak meminumnya, akan tetapi jika mereka diberi susu biri-biri, mereka akan meminumnya

Terjemahan di atas adalah dari buku abdul husein. Kemudian abdul husein berkomentar:

Alangkah bodohnya kata-kata itu, bahkan orang yang paling tolol sekalipun akan merendahkannya, kecuali kalau mereka sinting. Tetapi, dua ulama besar tersebut percaya pada orang pandir ini serta menyebutkan hal yang tidak masuk akalnya sebagai hujjah-hujjah. Jika apa yang ia katakan tidak merendahkan Islam, kami akan mengikatkan tali di lehernya serta membiarkan dia mengunyah rumput dengan bebas sesukanya, akan tetapi kami harus membela sunnah yagn suci semampu mungkin sebab berbagai takhayul ini merupakan cacat terburuk yang membebani Islam.

Kita baca di atas, abdul husein tidak percaya bahwa Allah merubah sebuah kaum menjadi tikus. Bahkan menganggap perkataan itu sebagai kata-kata bodoh. Kita tidak tahu, apakah riwayat syiah yang mengisahkan cambuk bisa berbicara adalah riwayat bodoh atau tidak. Atau adanya sebuah riwayat dalam kitab sunni adalah ukuran bodoh dan tidaknya sebuah riwayat. Ketika ada dalam kitab sunni, riwayat itu menjadi bodoh, yang tidak merendahkan riwayat itu adalah orang sinting. Artinya orang yang percaya pada riwayat itu adalah orang sinting.

Tak ketinggalan abdul husein menjuluki Abu Hurairah, perawi riwayat di atas, sebagai pandir, layak diberi tali di lehernya dan disuruh mengunyah rumput. Alias menjadi hewan ternak yang makan rumput.

Mari kita lihat bersama riwayat-riwayat syiah.

Madinatul Ma’ajiz, jilid 2 hal 42, dari Zaid As Syahham, bahwa beberapa orang munafik datang menemui Amirul Mukminin, mereka berkata: apakah kamu yang mengatakan bahwa ikan lele ini dulunya adalah manusia yang dirubah bentuknya? Ali berkata: ya, mereka bertanya: tunjukkan buktinya, lalu Ali mengajak mereka ke sungai Eufrat, dan Ali berteriak: hanas, hanas, ikan lele menjawab : labbaik (artinya kami datang), Ali bertanya pada mereka: siapa kamu? Dia menjawab: termasuk mereka yang engkau ajak untuk berwilayah padamu, lalu menolak dan dirubah bentuknya, dan sesungguhnya ada di antara orang yang bersamamu akan dirubah seperti kami dirubah, dan menjadi seperti kami. Amirul Mukminin berkata: jelaskan kisahmu agar yang hadir di sini ikut mengetahui. Lalu ikan itu berkata: ya, kami dulunya adalah 24 qabilah bani Israil, kami telah membangkang dan menolak perintah, engkau pernah mengajak kami untuk berwilayah padamu, lalu kami menolak, kami pergi dan melakukan kerusakan, datanglah sesuatu yang demi Allah, engkau lebih tahu daripada kami, lalu berteriak, dan mengumpulkan kami menjadi satu, lalu berteriak sekali lagi dan berkat: berubahlah kalian menjadi hewan dengan ijin Allah, lalu kami dirubah menjadi bermacam-macam hewan…..


Dari Musa Al Kazhim, dia berkata tentang berubah bentuk, bahwa ada 12 macam, dan ada penyebabnya, gajah, dia dirubah menjadi gajah karena sebelumnya dia adalah raja yang suka berzina dan homoseks, sebelum dirubah bentuknya, beruang adalah orang badui yagn tidak memiliki cemburu, sebelum dirubah, kelinci adalah wanita yang mengkhianati suaminya, dan tida pernah mandi setelah selesai haidh dan junub, sebelum dirubah, kelelawar sering mencuri korma miliki rakyat, … sednagkan kera dan babi, mereka adalah kaum dari Bani Israel yang berbuat melampaui batas di hari sabtu, sedangkan ikan lele dan dhabb, mereka adalah sekelompok Bani Israil yang ketika diturunkan hidangan pada Nabi Isa, mereka menolak untuk beriman, lalu mereka kebingungan, dan sebagian dari mereka jatuh ke laut, dan sebagian lagi di padang pasir, sedangkan kalajengking dulunya adalah orang yang sering menggunjing untuk merusak hubungan, sedangkan lebah, dulunya dia adalah seorang penjual daging yang mencuri timbangan
. Hilyatul Muttaqin hal 647-648

Saya tidak ingin memperpanjang makalah ini, tapi cukup saya sertakan judul bab dari kitab Madinatul Ma’ajiz, yang berisi mukjizat para imam ahlulbait. Asal pembaca tahu, kitab ini terdiri dari 8 jilid cerita tentang mukjizat para imam ahlulbait.

Mari kita lihat judul-judul kitab Madinatul Ma’ajiz:

Orang yang berubah menjadi anjing karena doa Amirul Mukminin, jilid 1 hal 308

Orang yang dirubah menjadi anjing, jilid 1 hal 310


Orang yang kepalanya dirubah menjadi kepala babi, dan Orang yang kepalanya dirubah menjadi kepala babi, begitu juga wajahnya dirubah menjadi kepala babi. Jilid 1 hal 311

Orang yang berubah menjadi burung gagak karena doa Ali jilid 1 hal 313

Orang yang dirubah menjadi kura-kura jilid 2 hal 66

Orang yang mengejeknya dirubah menjadi anjing, jilid 2 hal 288

Laki-laki dirubah menjadi wanita, dan sebaliknya, jilid 3 hal 260


Riwayat-riwayat ini lebih dahsyat dari riwayat Abu Hurairah. Sesuai dengan ukuran di atas, riwayat-riwayat ini tidak perlu dihujat, karena ada dalam kitab syiah.

Apakah abdul husein berani menjuluki Amirul Mukminin sebagai pandir? Apakah abdul husein berani mengikatkan tali di leher Musa Al Kazhim dan membiarkan Musa Al Kazhim mengunyah rumput sesukanya?

Apakah abdul husein berani menyebut riwayat-riwayat syiah di atas sebagai cacat yang membebani Islam?

Ukurannya jelas, ketika riwayat ada di kitab sunni, maka silahkan hujat sepuasnya. Tapi ketika riwayat yang sama ada dalam kitab syiah, maka dilarang untuk dihujat, karena akan melemahkan mazhab. Tidak perlu menghujat riwayat-riwayat syiah, karena dengan membacanya saja sudah cukup untuk mengenal kesesatannya.

Membaca mukjizat-mukjizat para imam syiah, saya jadi bertanya-tanya, mengapa mukjizat yang banyak itu tidak bisa membuat ahlulbait menjadi khalifah? Jika para imam sebelum imam mahdi memiliki mukjizat sebanyak itu, tentunya imam mahdi juga dibekali dengan mukjizat. Paling tidak mukjizat itu bisa untuk mengalahkan musuh. Jika tidak bisa mengalahkan musuh, apa gunanya mukjizat?

Melihat riwayat mukjizat-mukjizat itu, sepertinya mukjizat imam syiah lebih banyak dari para Nabi.
Riwayat-riwayat itu seolah mengancam, jika kita tidak mau masuk syiah, nanti bisa-bisa dikutuk jadi ikan lele atau anjing.
Cerita-cerita ala malin kundang, juga mirip cerita dalam majalah bobo, atau cerita-cerita legenda.
Akhirnya saya bisa memahami mengapa syiah membuat cerita-cerita mukjizat ini, yaitu karena tidak punya dalil-dalil dari Al Qur’an dan sunnah tentang kebenaran mazhabnya.
Readmore...

MENGHUJAT ABU HURAIRAH, MENGHUJAT KITAB SENDIRI (21)ABDUL HUSEIN MENGGUGAT AJARAN SYIAH

 
Abu Hurairah mendengar bahwa siapa yang junub di pagi hari bulan ramadhan, maka ia tidak berpuasa. Dia mendengar itu dari Al Fadhl, dan Abu Hurairah segera merubah pendapatnya ketika mendengar sebaliknya dari istri Nabi. Ternyata pendapat pertama Abu Hurairah itu adalah ajaran mazhab syiah.
Abu Hurairah menceritakan bahwa siapa yang junub di pagi hari bulan ramadhan tidak boleh berpuasa.  Cerita itu didengarnya dari Al Fadhl. Lalu Abdurrahman pergi ke Aisyah dan Ummu Salamah dan  mereka mengatakan bahwa Nabi  tidak suci di pagi hari tanpa mimpi basah dan beliau berpuasa. Mendengar itu, Abu Hurairah merubah pendapatnya. Ini tercantum dalam shahih Muslim

Mari kita lihat riwayat-riwayat ahlulbait mengenai hal ini.

Dari Habib Al Khats’ami, dalam hadits shahih dari imam As Shadiq: Nabi shallallahu alaihi wasallam shalat malam di bulan ramadhan, lalu junub, lalu menunda mandi dengan sengaja, hingga terbit fajar. 

Tahdzibul Ahkam jilid 4 hal 213,

Wasa'il Syi'ah jilid 7 hal 44,

Al Mukhtalaf jilid 3 hal 409

Dalam Tahdzib jilid 6 hal 15, dari Muhammad bin Hamran: aku bertanya pada Abu Abdillah tentang orang yang junub, apakah boleh duduk di masjid? Jawabnya: tidak boleh, tapi boleh sekedar melewati masjid, kecuali masjidil haram dan masjid madinah. Dan ulama kami meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: tidak boleh  seorang pun tidur dan junub di masjidku ini, dan berkata: sesungguhnya Allah mewahyukan padaku: jadikanlah masjid yang bersih, tidak halal seorang pun untuk junub di dalamnya selain aku, Ali, Hasan dan Husein.
Saya bertanya: apa perlunya Ali junub di masjid? Apa yang dilakukan oleh Ali di masjid dalam keadaan junub?
Dari Muhammad bin Isa berkata: Sulaiman bin Ja’far Al Marwazi menceritakan padaku dari Al Faqih Alaihissalam, bahwa dia berkata: jika seorang junub di malam hari bulan ramadhan, dan dia tidak mandi sampai waktu subuh, maka dia harus berpuasa dua bulan berturut-turut, juga harus berpuasa di hari ini, dan tidak akan pernah mendapatkan keutamaan puasa pada hari itu.

Al Istibshar jilid 2 hal 78,

 At Tahdzib jilid 4 hal 212,

Wasa'il Syi'ah jilid 7 hal 43

Dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah, tentang seorang yang junub di malam hari bulan ramadhan lalu sengaja menunda mandi sampai masuk waktu subuh, katanya: harus memerdekakan budak atau berpuasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan enam puluh orang miskin. Katanya lagi: dia layak untuk saya katakan: tidak akan mendapatkan keutamaan puasa hari itu selamanya.

Al Istibshar jilid 2 hal 78
Tahdzib jilid 4 hal 212
Wasa'il Syi'ah jilid 7 hal 43

Dalam Musnad Ar Ridha jilid 2 hal 194, bab siapa yang masuk waktu subuh dalam keadaan junub:dari Ahmad bin Muhammad: aku bertanya pada Abul Hasan tentang seseorang menggauli istrinya di malam hari, atau junub karena mimpi, lalu dia sengaja tidur hingga masuk waktu subuh, katanya: berpuasa pada hari itu dan harus mengqadha.

Mengqadha puasa artinya berpuasa satu hari untuk menggantikan puasanya pada hari itu.

Dalam Mir’atul Uqul jilid 16 hal 278, bab siapa yang junub di malam hari bulan ramadhan, dari Al Halabi, dari Abu Abdillah, dia berkata, tentang seorang yang bermimpi junub di awal malam, atau menggauli istrinya lalu tidur dengan sengaja, di malam bulan ramadhan hingga masuk waktu subuh, dia berkata: berpuasa pada hari itu lalu mengqadha puasanya pada hari itu di luar bulan ramadhan, lalu beristighfar memohon ampunan Allah.

Al Muhaqqiq Al Halabi berkata dalam Syara’I’ Al Islam jilid 1 hal 192: siapa yang junub lalu tidur dan berniat untuk mandi, lalu bangun dan tidur lagi, lalu bangun dan tidur lagi sampai terbit fajar, maka harus membayar kaffarah, menurut pendapat yang terkenal, dan masih ada keraguan.

Al Majlisi berkata dalam Mir’atul Uqul jilid 16 hal 278:

Pendapat yang terkenal di kalangan ulama kami, bahkan ada yang mengatakan bahwa hal itu adalah ijma’, yaitu haram sengaja berada dalam keadaan junub sampai terbut fajar, wajib mengqadha dan membayar kaffarah. Konon As Shaduq tidak mengharamkan hal ini, sementara ibnu Abi Aqil dan Sayyid hanya mewajibkan qadha, begitulah yang terkenal, yaitu wajib mengqadha jika dia tidur tanpa berniat untuk mandi, atau dia berniat mandi tapi dia tidak terbiasa…

Tidak terbiasa, artinya dia tidak terbiasa tidur dan bangun lagi untuk mandi.

Kata abdul husein pada hal 157:

Adalah pasti bahwa Al Fadhl telah meninggal dunia semasa pemerintahan Abu Bakar dan kasus ini terjadi selama pemerintahan Muawiyah. Maka mudah bagi Abu Hurairah untuk mengatakan bahwa ia telah mendengarnya dari Al Fadhl, dan tidak dari Nabi. Seandainya Al Fadhl Masih hidup, ia tidak akan berani berkata demikian.

Di sini abdul husein seolah mengesankan bahwa ucapan Abu Hurairah itu adalah dari kepalanya sendiri, bukan dari Al Fadhl atau siapa pun. Dalam pandangan abdul husein, Abu Hurairah menjadikan Al Fadhl sebagai kambing hitam, padahal ucapan itu dari Abu Hurairah sendiri. Tapi ternyata ucapan Abu Hurairah, yang dikatakan berasal dari Al Fadhl, dipegang oleh syiah.

Kita lihat Abu Hurairah menyatakan pendapat yang menjadi mazhab syiah.

Mengapa Abu Hurairah digugat karena menyatakan apa yang menjadi pendapat mazhab syiah? ternyata abdul husein tidak banyak tahu riwayat ahlulbait.

Jika abdul husein musawi, yang menuntut ilmu di hauzah nejef, tidak banyak tahu hadits-hadits dan riwayat ahlulbait “maksumin”, apalagi yang hanya kuliah program doktoral di UIN Alaudin Makassar.

Junub tidak membatalkan puasa, dengan bukti bahwa bisa saja seorang mimpi basah di siang hari bulan ramadhan dan menunda mandi, itu tidak membatalkan puasanya.

Ini diakui sendiri oleh Al Murtadha dalam Al Intishar hal 64, katanya:
kami tidak mewajibkan bagi mereka yang sengaja tetap dalam keadaan junub sampai subuh untuk mandi, bukan karena junub menggugurkan puasa, tapi karena boleh berada dalam keadaan junub pada siang hari puasa.

Satu lagi bahan renungan untuk syiah Indonesia. Semoga mereka mau berpikir.

http://hakekat.com/content/view/103/1/
Readmore...

MENGHUJAT ABU HURAIRAH, MENGHUJAT KITAB SENDIRI (20) APAKAH IMAM SYIAH BELAJAR DARI ABU HUIRAIRAH?

 
Abu Hurairah dihujat oleh abdul husein karena meriwayatkan dua hadits yang nampak bertentangan. Tapi Imam Ja’far As Shadiq meriwayatkan dua hadits yang sama.
Abu Hurairah meriwayatkan dua hadits yang nampaknya memiliki makna yang bertentangan. Tapi ternyata Abu Hurairah tidak sendirian. Riwayat ini tercantum dalam kitab syiah, diriwayatkan oleh imam syiah sendiri, yang selama ini diklaim maksum.

Hadits ini tercantum dalam Mustadrak Al Wasa'il jilid 8 hal 278-279, dalam bab yang berjudul: makruhnya takut pada penyakit menular, dan makruhnya shafar bagi ternak dan lainnya, dari sahabat Abu Hurairah.  Artinya, An Nuri At Thabrasi, penyusun Mustadrak Al Wasa'il, tidak melihat adanya masalah dalam hadits ini, seperti dalam pandangan abdul husein.

Jika abdul husein menganggap Abu Hurairah telah meriwayatkan hadits yang bertentangan, maka kita bisa melihat para imam ahlulbait yang juga meriwayatkan hadits ini.

Dari An Nazhr bin Qarwasy Al Jammal, dari Abu Abdillah, aku bertanya pada Abu Abdillah tentang onta yang sakit kulitnya, apakah harus kupisahkan dari onta lain karena takut menular? … Abu Abdillah berkata: seorang badui mendatangi Rasulullah shallallahualaihiwasallam dan berkata: wahai Rasulullah, saya membeli sapi dan kambing yang sait dengan harga murah, aku tidak ingin membelinya karena takut akan menulari onta dan kambingku yang lain. Kata Rasulullah: wahai badui, siapa yang menulari onta pertama? Lalu Rasulullah shallallahualaihiwasallam bersabda: tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah, tidak ada syum, tidak ada shafar….

Wasa'il Syi'ah jilid 8 hal 370.
Ar Raudhah hal 196
Biharul Anwar jiid 58 hal 318

dalam Man La Yahdhuruhul Faqih jilid 4 hal 258, dari As Shadiq: larilah dari orang sakit lepra, seperti kamu lari dari singa

Al Jazairi mengatakan dalam Al Anwar An Nu’maniyah jilid 2 hal 145, diriwayatkan bahwa dia berkata: yang sakit jangan berbaur dengan orang sehat, dan berkata: larilah dari orang sakit lepra, seperti kamu lari dari singa

Pada riwayat pertama, Abu Abdillah menegaskan bahwa tidak ada penyakit menular. Tapi pada riwayat kedua, Abu Abdillah malah menyuruh orang lari dari penderita lepra. Bukankah ini dua hadits yang bertentangan?

Kata abdul husein:

Ini, selalu, merupakan keadaan mereka yang berjalan di dua jalan yang berbeda.

Dalam footnote no 257 hal 157 tertulis: bagaimanakah para pembela Abu Hurairah akan menafsirkan dua hadits ini untuk menghindari kontradiksi di antara mereka?

Semestinya abdul husein dan para ustadz syiah menanyakan kontradiksi ini pada Abu Abdillah.

Juga, apakah imam Ja’far As Shadiq termasuk mereka yang berjalan di dua jalan yang berbeda?

Jangan-jangan imam Ja’far As Shadiq (Abu Abdullah) mendengar riwayat ini dari jalur Abu Hurairah.
Readmore...

MENGHUJAT ABU HURAIRAH, MENGHUJAT KITAB SENDIRI (19) APAKAH ALI MENGETAHUI AL QUR'AN SEBELUM NABI?

 
Ali membaca ayat-ayat Al Qur'an waktu bayi, sebelum turunnya wahyu pada Nabi Muhammad shallallahualaihiwasallam. Ini terdapat dalam kitab syiah, Tapi luput dari hujatan abdul husein.
Abu Hurairah meriwayatkan hadits tentang Juraij yang dituduh menghamili seorang pelacur hingga melahirkan, lalu dia menyuruh bayi itu bicara, dan bayi itu berbicara siapa sebenarnya ayah biologisnya. Juga kisah tentang bayi yang berbicara pada ibunya yang mendoakannya.

Kata abdul husein:

Tidaklah Juraij seorang nabi, begitu juga kedua bayi itu. Tidak ada suatu alasan yang mewajibkan terjadinya suatu mukjizat. 

Ternyata riwayat Abu Hurairah yang dihujatnya juga tercantum dalam kitab Qashash Al Anbiya karya Ni’matullah Al Jazairi hal 517

Sementara dalam kitab Al Qatrah, riwayat dari Ya’qub bin Siraj, dia berkata: aku menemui Abu Abdullah, dia sedang berdiri di kepala Musa, yang saat itu dalam ayunan, dia berbisik pada Musa dengan lama, aku duduk sampai dia selesai, lalu aku berdiri menghampirinya, dia berkata padaku: mendekatlah pada imammu, ucapkan salam padanya, aku mendekat dan mengucapkan salam,dia menjawab salamku dengan fasih.

Al Qathrah, jilid 1 hal 222 dan 252,

Ats Tsaqib fil Manaqib hal 200,

Al Ikmal jilid 1 hal 194,

Al Anwar An Nu’maniyah jilid 2 hal 18,

Ilzamu An Nashib jilid 2 hal 328-329,

Al Kharaij jilid 2 hal 524 -525,

Raudhatul Waidzin jilid 1 hal 143,

Al Hilyah jilid 2 hal 226-228, juga hal 529


Sementara dalam Al Mahajjah jilid 4 hal 278, dari Zakariya bin Adam berkata: aku mendengar imam Ar Ridha berkata: ayahku adalah salah satu yang berbicara di waktu bayi.

Sementara Al Quzweini dalam kitabnya berjudul: Ali dari ayunan ke liang lahat hal 23, bab Ali membaca Al Qur’an sebelum diturunkan. Berikut riwayatnya secara singkat

Inti dari kisah itu adalah: Abu Thalib menyambut Fatimah binti Asad, mengucapkan selamat, Abu Thalib lalu menggendong anaknya tercinta dan memeluknya, lalu mengembalikan pada ibunya. Rasulullah pun datang, dan saat itu Nabi belum diutus, ketika Ali melihatnya, lalu Ali tertawa dan mendengus seperti anak berusia setahun, lalu Nabi mengambilnya dan menciumnya, dan memuji Alah atas lahirnya bayi ini, dan Nabi tahu bahwa kelak dia akan menjadi penolong dan saudara terbaik, orang pertama yang beriman padanya…. Lalu Ali mengucapkan salam pada Rasulullah, lalu membaca ayat surat Al Mukminun ayat 1 dan 2.

Di sini kita bingung, Ali yang masih bayi membaca ayat-ayat Al Qur’an yang belum diturunkan pada Nabi Muhammad. Jangan-jangan Ali sudah dapat bocoran, lebih dulu tahu Al Qur’an daripada Nabi Muhammad shallallahualaihiwasallam

Riwayat-riwayat begini memang sengaja didiamkan oleh abdul husein karena ada dalam kitab syiah. Dia takut menghujat legitimasi imamnya. Dia memilih menghujat Bukhari Muslim, meski kitab-kitab syiah memuat riwayat-riwayat yang lebih “seru” dari apa yang ada dalam Bukhari Muslim, misalnya memuat tentang cambuk dan gunung yang bisa bicara.
Readmore...

MENGHUJAT ABU HURAIRAH, MENGHUJAT KITAB SENDIRI (18) APAKAH ULAMA SYIAH DIBAYAR BANI UMAYAH?

 
Kata abdul husein, Abu Hurairah termasuk orang bayaran bani Umayah untuk menjelek-jelekkan Ali dan keturunannya.
Abu Hurairah meriwayatkan hadits tentang Abu Thalib yang menolak bersyahadat saat wafatnya. Tapi abdul husein tidak bisa menerimanya. Katanya:

Hadis ini adalah  satu dari banyak hadis yang dibuat oleh para tentara bayaran untuk menyanjung musuh-musuh Ali dan keturunannya. Bani Umayyah mencoba apa pun yang mungkin untuk menyebarkannya.

Artinya, hadits ini adalah palsu, buatan orang-orang bayaran Bani Umayyah.

Dalam Tafsir Al Qummi: surat Al Qashash ayat 56. Al Qummi berkata:
ayat ini turun mengenai Abu Thalib, Rasulullah berkata padanya: wahai paman, katakan Laa ilaaha illallah, aku akan bisa berguna bagimu di hari kiamat, Abu Thalib menjawab: wahai keponakanku, aku lebih mengenal diriku, ketika meninggal dunia, Abbas bersaksi bahwa dia mengucapkannya saat meninggal. Kata Rasulullah: aku tidak mendengarnya, dan aku berharap dapat berguna baginya di hari kiamat nanti.

Fadhlullah Ar Rawandi, seorang ulama syiah, dalam kitabnya berjudul Nawadir Ar Rawandi hal 10 berkata: Rasulullah bersabda: orang yang paling ringan siksanya adalah pamanku, aku mengeluarkannya dari dasar neraka sampai ke lembahnya, dia mengenakan dua sandal dari api, membuat otaknya mendidih.

Al Majlisi menukil dari Ibnu Abil Hadid dalam syarah Nahjul Balaghah:
manusia berselisih tentang keislaman Abu Thalib. Imamiyah dan Zaidiyah berpendapat: mereka berdua mati dalam keadaan muslim. sebagian guru kami dari kalangan Mu’tazilah juga meyakini pendapat itu, di antaranya: Abu Qasim Al Balkhi, Abu Ja’far Al Iskafi dan lainnya. Sementara kebanyakan manusia, yaitu dari kalangan ahli hadits dan kebanyakan guru kami dari basrah dan lainnya: dia mati di atas agama kaumnya, dan mereka meriwayatkan hadits yang terkenal: bahwa Rasulullah bersabda menjelang matinya Abu Thalib: wahai pamanku, katakan Laa Ilaaha Illallah, kalimat yang akan kujadikan saksi di hadapan Allah kelak di hari kiamat. Jawab Abu Thalib: Jika bukan karena aku takut orang arab mengatakan bahwa Abu Thalib takut saat mati, aku akan mengatakannya. Dan diriwayatkan bahwa Abu Thalib berkata: aku berada pada agama orang-orang tua, dikatakan juga bahwa dia berkata: aku berada pada agama Abdul Muthalib, dan ada lagi yang mengatakan bahwa Abu Thalib mengatakan lainnya.

Banyak ahli hadits meriwayatkan bhawa firman Allah : at taubah 113-114, turun berkenaan dengan Abu Thalib, karena Rasulullah memohonkan ampunan untuknya setelah dia mati.

Mereka juga meriwayatkan bahwa ayat : sesungguhnya engkau tidak bisa memberi petunjuk pada orang yang kau suka. adalah turun berkenaan Abu Thalib. 

Mereka juga meriwayatkan bahwa Ali datang menemui Rasulullah setelah wafatnya Abu Thalib, dan berkata: pamanmu yang sesat telah mati, apa perintahmu kepadaku? Dan mereka berhujjah bahwa tidak pernah Abu Thalib terlihat melakukan shalat, dan shalat adalah pembeda antara muslim dan kafir, juga Ali dan Ja’far tidak mengambil harta warisannya sedikitpun.

Mereka meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: sesungguhnya Allah telah menjanjikanku untuk meringankan azabnya karena jasanya padaku, dia berada di lembah neraka. Mereka juga meriwayatkan bahwa ada yang berkata pada Rasulullah shallallahualaihiwasallam  : alangkah baiknya jika engkau memohonkan ampunan untuk ayah dan ibumu, Rasulullah shallallahualaihiwasallam menjawab: jika aku memohonkan ampunan bagi mereka berdua, aku akan memohonkan ampunan bagi Abu Thalib, karena dia telah berbuat apa yagn tidak dilakukan oleh ayah dan ibuku. Dan  Abdullah, Aminah serta Abu Thalib berada di salah satu kamar neraka.
Biharul Anwar jilid 35 hal 155.

Nukilan di atas adalah dari para ulama syiah.

Apakah para ulama syiah di atas juga orang bayaran Bani Umayah?
 http://hakekat.com/content/view/100/1/
Readmore...
sunnah

blog copas