Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Bahasa Arab Untuk Anak-Anak

 
Segala Puji bagi Allah ta’ala yang telah menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa arab. Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Al-Qur’an adalah mukjizat paling agung yang menunjukkan akan benarnya risalah yang dibawa Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bahkan kalangan jin pun sampai kagum dengan keindahan bahasa Al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman dalam surat al-Jinn,
قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا . يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا
“Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya Kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu Kami beriman kepadanya. dan Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan Kami.”. (Al-Jin [72]: 1-2)

Tak seorang pun yang mampu mendatangkan satu ayat pun yang semisal Al-Qur’an, Allah ta’ala berfirman,
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
“Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.” (QS. Al-Israa [17]: 88)
Allah ta’ala telah menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa arab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan wahyu, membimbing para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in dengan bahasa arab, begitupula generasi terbaik umat ini, mereka juga saling berkomunikasi dengan bahasa arab. Maka tidak mungkin bagi kita untuk bisa memahami dengan baik dua wahyu Allah (Al Qur’an dan As Sunnah), sesuai dengan pemahaman yang benar dari para sahabat dan ulama-ulama yang berpegang teguh dengan tuntunan mereka kecuali dengan mempelajari bahasa arab.
Mempelajari bahasa arab adalah perkara yang amat penting. Sungguh sangat menyedihkan bahwa kebanyakan kaum muslimin berpaling dari mempelajari bahasa arab. Kebanyakan kaum muslimin sekarang lebih berbangga apabila bisa berbicara dengan bahasa asing, dengan bahasa inggris, jerman dan seterusnya, bahkan putra-putri mereka pun dididik dengan bahasa asing supaya tidak ketinggalan zaman, dan yang paling menyedihkannya adalah mereka sama sekali tidak berupaya agar putra-putri mereka mempelajari bahasa arab. Laa haula walaa quwwata illa billah…
Kalau keadaan kaum muslimin seperti ini, bagaimana akan tercetak generasi Islam yang cinta Allah dan Rasul-Nya? Bisa dibayangkan bila ini berlangsung terus akan menyebabkan mereka terombang ambing dalam gelombang syubhat dan syahwat. Bagaimana mungkin mereka akan mampu membela Islam dengan benar kalau aqidahnya rapuh, kalau mereka sendiri tidak di didik diatas tuntunan islam, di atas tuntunan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Untuk para orang tua:
  • Perhatikanlah pendidikan anak-anakmu. Janganlah kau terlantarkan pendidikan mereka, pendidikan yang paling penting bagi mereka adalah pengajaran aqidah yang benar, tanamkan aqidah tersebut pada benak mereka.
  • Ajarkan mereka Al-Qur’an sejak dini. Bangkitkan kecintaan mereka terhadap Al-Qur’an.
  • Ajarkanlah mereka hadits-hadits dari Rasulullah, biasakan mereka untuk mendengar hadits-hadits tersebut.
  • Perkenalkan putra-putri anda bahasa arab. Karena itu merupakan bahasa Al-Qur’an. Ajarkan sejak dini, sejak anak bisa berbicara maka latihlah dia untuk belajar bahasa arab.
  • Karena mengajar anak di waktu kecil bagaikan mengukir diatas batu. Sedikit demi sedikit. Ketika anak sudah paham nama-nama benda, ajarkan bahasa arabnya.
Misalnya ketika anak melihat ke langit maka kita ajarkan bahwa langit bahasa arabnya adalah “samaa’un”, kalau anak melihat buku maka kita ajarkan bahwa bahasa arabnya buku adalah “kitaabun”, kalau anak sedang memperhatikan tangannya, kita ajarkan bahwa bahasa arab tangan adalah “yadun” dan seterusnya. Dengan diperkenalkan dan melihat langsung wujud aslinya akan sangat membantu anak cepat hafal yang diajarkan.
Maka, marilah kita perkenalkan bahasa Arab sejak dini kepada anak-anak kita. Semoga kelak mereka menjadi anak yang bertakwa, cinta Al-Quran, cinta al-Hadits, menjadi salah satu penegak panji islam dan menjadi penduduk surga-Nya Allah ta’ala kelak, aamiin.
Readmore...

Pentingnya Bahasa Arab

 
Imam Asy-Syafi’i mengatakan, Manusia menjadi buta agama, bodoh dan selalu berselisih paham lantaran mereka meninggalkan bahasa Arab, dan lebih mengutamakan konsep Aristoteles. (Siyaru A’lamin Nubala, 10/74.)
Itulah ungkapan Imam Syafi’i buat umat, agar kita jangan memarginalkan bahasa kebanggaan umat Islam. Seandainya sang imam menyaksikan sikap umat sekarang ini terhadap bahasa Arab, tentulah keprihatinan beliau akan semakin memuncak.

Bahasa Arab berbeda dengan bahasa-bahasa lain yang menjadi alat komunikasi di kalangan umat manusia. Ragam keunggulan bahasa Arab begitu banyak. Idealnya, umat Islam mencurahkan perhatiannya terhadap bahasa ini. Baik dengan mempelajarinya untuk diri mereka sendiri ataupun memfasilitasi dan mengarahkan anak-anak untuk tujuan tersebut.


Di masa lampau, bahasa Arab sangat mendapatkan tempat di hati kaum muslimin. Ulama dan bahkan para khalifah tidak melihatnya dengan sebelah mata. Fashahah (kebenaran dalam berbahasa) dan ketajaman lidah dalam berbahasa menjadi salah satu indikasi keberhasilan orang tua dalam mendidik anaknya saat masa kecil.
Redupnya perhatian terhadap bahasa Arab nampak ketika penyebaran Islam sudah memasuki negara-negara ‘ajam (non Arab). Antar ras saling berinteraksi dan bersatu di bawah payung Islam. Kesalahan ejaan semakin dominan dalam perbincangan. Apalagi bila dicermati realita umat Islam sekarang pada umumnya, banyak yang menganaktirikan bahasa Arab. Yang cukup memprihatinkan, para orang tua kurang mendorong anak-anaknya agar dapat menekuni bahasa Arab ini.

Keistimewaan Bahasa Arab
  1. Bahasa Arab adalah bahasa Al Quran. Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan Al-Quran dalam bahasa Arab, supaya kalian memahaminya.” (QS. Az Zukhruf: 3)
  2. Bahasa Arab adalah bahasa Nabi Muhammad dan bahasa verbal para sahabat. Hadits-hadits Nabi yang sampai kepada kita dengan berbahasa Arab. Demikian juga kitab-kitab fikih, tertulis dengan bahasa ini. Oleh karena itu, penguasaan bahasa Arab menjadi pintu gerbang dalam memahaminya.
  3. Susunan kata bahasa Arab tidak banyak. Kebanyakan terdiri atas susunan tiga huruf saja. Ini akan mempermudah pemahaman dan pengucapannya.
  4. Indahnya kosakata Arab. Orang yang mencermati ungkapan dan kalimat dalam bahasa Arab, ia akan merasakan sebuah ungkapan yang indah dan gamblang, tersusun dengan kata-kata yang ringkas dan padat.
Petunjuk Urgensi Belajar Bahasa Arab

1. Teguran Keras Terhadap Kekeliruan Dalam Berbahasa
Berbahasa yang baik dan benar sudah menjadi tradisi generasi Salaf. Oleh karena itu, kekeliruan dalam pengucapan ataupun ungkapan yang tidak seirama dengan kaidah bakunya dianggap sebagai cacat, yang mengurangi martabat di mata orang banyak. Apalagi bila hal itu terjadi pada orang yang terpandang.
Ibnul Anbari menyatakan: “Bagaimana mungkin perkataan yang keliru dianggap baik…? Bangsa Arab sangat menyukai orang yang berbahasa baik dan benar, mereka memandang orang-orang yang keliru dengan sebelah mata dan menyingkirkan mereka”.

Umar bin Khaththab pernah mengomentari cara memanah beberapa orang dengan berucap: “Alangkah buruk bidikan panah kalian”. Mereka menjawab, “Nahnu qawmun muta’alimiina (kami adalah para pemula)”, (Seharusnya: Nahnu Qawmun Muta’alimuuna – mereka salah dalam bahasa -ed) maka Umar berkata, “Kesalahan berbahasa kalian lebih fatal menurutku daripada buruknya bidikan kalian…” (Al Malahin, karya Ibnu Duraid Al Azdi, hlm. 72)

2. Perhatian Salaf Terhadap Bahasa Arab
Umar bin Khaththab pernah menulis surat kepada Abu Musa yang berisi pesan: “Amma ba’du, pahamilah sunnah dan pelajarilah bahasa Arab”.
Pada kesempatan lain, beliau mengatakan: “Semoga Allah merahmati orang yang meluruskan lisannya (dengan belajar bahasa Arab)”.
Pada kesempatan lain lagi, beliau menyatakan: “Pelajarilah agama, dan ibadah yang baik, serta dalamilah bahasa Arab”.
Beliau juga mengatakan: “Pelajarilah bahasa Arab, sebab ia mampu menguatkan akal dan menambah kehormatan”. (Tarikh Umar bin Khathab, karya Ibnul Jauzi, 225)
Para ulama tidak mengecilkan arti bahasa Arab. Mereka tetap memberikan perhatian yang besar dalam menekuninya, layaknya ilmu syar’i lainnya. Sebab bahasa Arab adalah perangkat dan sarana untuk memahami ilmu syariat.
Imam Syafi’i pernah berkata: “Aku tinggal di pedesaan selama dua puluh tahun. Aku pelajari syair-syair dan bahasa mereka. Aku menghafal Al Qur’an. Tidak pernah ada satu kata yang lewat olehku, kecuali aku memahami maknanya”.
Imam Syafi’i telah mencapai puncak dalam penguasaan bahasa Arab, sehingga dijuluki sebagai orang Quraisy yang paling fasih pada masanya. Dia termasuk yang menjadi rujukan bahasa Arab.
Ibnul Qayyim juga dikenal memiliki perhatian yang kuat terhadap bahasa Arab. Beliau mempelajari dari kitab Al Mulakhkhash karya Abul Baqa’, Al Jurjaniyah, Alfiyah Ibni Malik, Al Kafiyah Asy Syafiah dan At Tashil, Ibnul Fathi Al Ba’li. Beliau juga belajar dari Ali bin Majd At Tusi.
Ulama lain yang terkenal memiliki perhatian yang besar terhadap bahasa Arab adalah Imam Syaukani. Ulama ini menimba ilmu nahwu dan sharaf dari tiga ulama sekaligus, yaitu: Sayyid Isma’il bin Al Hasan, ‘Allamah Abdullah bin Ismail An Nahmi, dan ‘Allamah Qasim bin Muhammad Al Khaulani.

3. Anak-Anak Khalifah Juga Belajar Bahasa Arab
Para khalifah, dahulu juga memberikan perhatian besar terhadap bahasa Arab. Selain mengajarkan pada anak-anak dengan ilmu-ilmu agama, mereka juga memberikan jadwal khusus untuk memperdalam bahasa Arab dan sastranya. Motivasi mereka, lantaran mengetahui nilai positif bahasa Arab terhadap gaya ucapan mereka, penanaman budi pekerti, perbaikan ungkapan dalam berbicara, modal dasar mempelajari Islam dari referensinya. Oleh karena itu, ulama bahasa Arab juga memiliki kedudukan dalam pemerintahan dan dekat dengan para khalifah. Para pakar bahasa menjadi guru untuk anak-anak khalifah.
Al Ahmar An Nahwi berkata, “Aku diperintahkan Ar Rasyid untuk mengajarkan sastra Arab kepada anaknya, Muhammad Al Amin. Al Makmun dan Al Amin juga pernah dididik pakar bahasa yang bernama Abul Hasan ‘Ali bin Hamzah Al Kisai yang menjadi orang dekat Khalifah. Demikian juga pakar bahasa lain yang dikenal dengan Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin As Sari mengajari anak-anak Khalifah AlMu’tadhid pelajaran bahasa Arab. Juga Abu Qadim Abu Ja’far Muhammad bin Qadim mengajari Al Mu’taz sebelum memegang tampuk pemerintahan”.

Bahasa Arab adalah bahasa yang terbaik di dunia, karena Allah memilihnya menjadi bahasa yang digunakan di dalam kitab-Nya yang mulia. Selain itu, bahasa Arab memang memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pendidikan. Terutama dalam memahami Islam dengan baik dan benar. Hendaknya kaum muslimin bersemangat dalam mempelajarinya. Semoga saja.

Pengaruh Bahasa Arab Untuk Pendidikan

1. Mempermudah Penguasaan Terhadap Ilmu Pengetahuan
Islam sangat menekankan pentingnya aspek pengetahuan melalui membaca. Allah ta’ala berfirman, “Bacalah dengan nama Rabb-mu yang menciptakan.” (QS. Al ‘Alaq: l)
Melalui bahasa Arab, orang dapat meraih ilmu pengetahuan. Sebab bahasa Arab telah menjadi sarana mentransfer pengetahuan. Bukti konkretnya, banyak ulama yang mengabadikan berbagai disiplin ilmu dalam bait-bait syair yang lebih dikenal dengan nazham (manzhumah atau nazhaman). Dengan ini, seseorang akan relatif lebih mudah mempelajarinya, lantaran tertarik pada keindahan susunannya, dan menjadi keharusan untuk menghafalnya bagi orang yang ingin benar-benar menguasainya dengan baik.

Sebagai contoh, kitab Asy Syathibiyah Fi Al Qiraati As Sab’i Al Mutawatirati ‘Anil Aimmati Al Qurrai As Sab’ah, adalah matan syair yang berisi pelajaran qiraah sab’ah, karangan Imam Al Qasim bin Firah Asy Syathibi. Buku lain yang berbentuk untaian bait syair, Al Jazariyah, yaitu buku tentang tajwid karya Imam Muhammad bin Muhammad Al Jazari. Dalam bidang ilmu musthalah hadits, ada kitab Manzhumah Al Baiquniyah, karya Syaikh Thaha bin Muhammad Al Baiquni. Dan masih banyak contoh lainnya.

2. Meningkatkan Ketajaman Daya Pikir
Dalam hal ini, Umar bin Khaththab berkata, “Pelajarilah bahasa Arab. Sesungguhnya ia dapat menguatkan akal dan menambah kehormatan.”
Pengkajian bahasa Arab akan meningkatkan daya pikir seseorang, lantaran di dalam bahasa Arab terdapat susunan bahasa indah dan perpaduan yang serasi antar kalimat. Hal itu akan mengundang seseorang untuk mengoptimalkan daya imajinasinya. Dan ini salah satu faktor yang secara perlahan akan menajamkan kekuatan intelektual seseorang. Pasalnya, seseorang diajak untuk merenungi dan memikirkannya. Renungkanlah firman Allah ta’ala, “Barangsiapa yang menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS Al Hajj: 31)

Lantaran dahsyatnya bahaya syirik kepada Allah, maka permisalan orang yang melakukannya bagaikan sesuatu yang jatuh dari langit yang langsung disambar burung sehingga terpotong-potong tubuhnya. Demikian perihal orang musyrik, ketika ia meninggalkan keimanan, maka syetan-syetan ramai-ramai menyambarnya sehingga terkoyak dari segala sisi, agama dan dunianya, mereka hancurkan. (Tafsir As Sa’di)

3. Mempengaruhi Pembinaan Akhlak
Orang yang menyelami bahasa Arab, akan membuktikan bahwa bahasa ini merupakan sarana untuk membentuk moral luhur dan memangkas perangai kotor.
Berkaitan dengan itu, Ibnu Taimiyah berkata: “Ketahuilah, perhatian terhadap bahasa Arab akan berpengaruh sekali terhadap daya intelektualitas, moral, agama (seseorang) dengan pengaruh yang sangat kuat lagi nyata. Demikian juga akan mempunyai efek positif untuk berusaha meneladani generasi awal umat ini dari kalangan sahabat, tabi’in dan meniru mereka, akan meningkatkan daya kecerdasan, agama dan etika”. (Iqtidha Shiratil Mustaqim, hlm. 204)
Misalnya, penggalan syair yang dilantunkan Habib bin Aus yang menganjurkan berperangai dengan akhlak yang baik:
Manusia senantiasa dalam kebaikan,
selama ia mempunyai rasa malu
Batang pohon senantiasa abadi,
selama kulitnya belum terkelupas
Demi AIlah, tidak ada sedikit pun kebaikan dalam kehidupan,
Demikian juga di dunia, bila rasa malu telah hilang sirna
Juga ada untaian syair yang melecut orang agar menjauhi tabiat buruk.
Imam Syafi’i mengatakan:
Bila dirimu ingin hidup
dengan bebas dari kebinasaan,
(juga) agamamu utuh dan kehormatanmu terpelihara,
Janganlah lidahmu
mengungkit cacat orang,
Tubuhmu sarat dengan aib, dan orang (juga)
memiliki lidah.

Jadi, bahasa Arab tetap penting, Bahkan menjadi ciri khas kaum muslimin. Seyogyanya menjadi perhatian kaum muslimin. Dengan memahami bahasa Arab, penguasaan terhadap Al Qur’an dan As Sunnah menjadi lebih mudah. Pada gilirannya, akan mengantarkan orang untuk dapat menghayati nilai-nilainya dan mengamalkannya dalam kehidupan.

Diangkat dari Al Atsaru At Tarbawiyah Li Dirasati Al Lughah Al ‘Arabiyyah, karya Dr. Khalid bin Hamid Al Hazimi, dosen Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah. Majalah jami’ah Islamiyyah, edisi 125 Th. 1424 H. Disalin dari Majalah As-Sunnah edisi 02/IX/1426H, Rubrik Baituna, hal. 05 – 08.
Disalin oleh badar online dari http://blog.vbaitullah.or.id
http://badaronline.com/artikel/pentingnya-bahasa-arab.html
Readmore...

Belajar Bahasa Arab Dapat Menambah Kecerdasan?? Benarkah?

 
Salah satu keutamaan belajar bahasa arab adalah akan bertambahnya kecerdasaan seseorang, ia akan lebih peka terhadap suatu hal dan pikirannya menjadi terbuka dan tidak terpaku pada sesuatu, hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu,
تَعَلَّّمُوْا العَرَبِيَّةَ فَإِنَّهَا تُثَبِّتُ العَقْلَ ، وَتَزِيْدُ فِي المُرُوْءَةِ
“Pelajarilah bahasa arab, karena ia dapat menguatkan akal dan menambah kewibawaan (Imam Baihaqi dalam Syu’aibul Imaan, Maktabah Syamilah).
Lalu apa sebenarnya yang membuat bahasa arab dapat menambah kecerdasan?

Hal ini karena, ketika kita mempelajari bahasa arab ataupun membaca tulisan berbahasa arab, otak kita akan memproses apa yang kita baca dan lihat, ketika dia tidak memahami bahasa arab, maka hal itu tidak ada gunanya, akan tetapi ketika dia sudah memahami bahasa arab, dia akan lebih fokus berfikir.
Kenapa?? Hal ini karena Bahasa arab berbeda dengan bahasa Indonesia, susunan dalam bahasa Indonesia adalah baku hanya mempunyai satu makna dan mudah dipahami, sedangkan susunan bahasa arab berbeda-beda serta dapat mempunyai banyak makna, sehingga terkadang kita sulit untuk memahami apa maksud dari kalimat tersebut.
Selain itu, ketika kita membaca kitab berbahasa arab (kitab gundul), kita dituntut untuk menganalisis tiap kata yang ada, kedudukannya, fungsinya, harokatnya, karena ketika salah menganalisis, menjadikan arti yang didapat menjadi salah, yang akhirnya pemahaman kita menjadi salah pula.

Coba perhatikan contoh berikut:
أعطى محمد كتابا
Dari kalimat di atas, kita harus menganalisis, harokat apakah yang cocok untuk kalimat tersebut dan makna seperti apakah yang diinginkan. Sehingga ketika kita ingin mengatakan
أَعْطَى مُحَمَّدٌ كِتَابًا (Muhammad memberi kitab )
Kita harus menganalisisi, bahwa dari pengucapan di atas, mengindikasikan bahwa, مُحَمَّدٌ berkedudukan sebagai Fa’il (subjek), sedangkan  كِتَابًا sebagai objek, karena أَعْطَى diposisikan sebagai fi’il ma’lum.

Namun, benarkah pengucapan seperti itu??
Jika kita menganalisis dengan teliti, maka kita akan tahu bahwa, kata kerja أَعْطَى (memberi) harus mempunyai dua objek (dari artinya sudah jelas membutuhkan dua objek), sedangkan kalimat di atas hanya mempunyai satu objek, jika أَعْطَى diposisikan sebagai fi’il ma’lum, maka kalimat tersebut tidak mempunyai arti yang dimaksudkan, kepada siapa Muhammad memberi kitab?? Arti menjadi rancu, sehingga pengucapan di atas kurang tepat.

Lalu bagaimana pengucapan yang benar??
Jawabnya adalah sebagai berikut:
(Muhammad telah diberi kitab) أُعْطِيَ مُحَمَّدٌ كِتَابًا
Kata kerja أعطى harus diposisikan sebagai fi’il majhul, karena ia harus mempunyai dua objek jika diposisikan sebagai fi’il ma’lum, sedangkan kata مُحَمَّدٌ berkedudukan sebagai na’ibul fa’il (pengganti fa’il) dan كِتَابًا sebagai objek, sehingga arti dari kalimat di atas, “Muhammad diberi kitab”, dan ini yang benar. Mungkin anda akan bertanya, “kan kalimat di atas masih rancu, siapa yang memberi muhammad kitab??” Jawabnya, di dalam bahasa arab, ketika fi’il ma’lum diubah menjadi majhul, mengindikasikan ada fa’il yang dihapus dan digantikan dengan objeknya (coba liat kembali pembahasan na’ibul fa’il), sehingga, ketika seseorang mengucapkan hal di atas, orang yang diajak berbicara pasti akan mengetahui maksud perkataannya.
Lebih mudahnya perhatikan kalimat berikut, jika dikatakan:
أَعْطَى مُحَمَّدٌ وَحْيًا (Muhammad memberi wahyu)
Maka ini adalah pengucapan yang salah, namun jika di ucapkan
أُعْطِىَ مُحَمَّدٌ وَحْيًا (Muhammad telah diberi wahyu)
Maka ini adalah pengucapan yang benar, walaupun fa’ilnya tidak disebutkan, kita dapat mengetahui maksud dari pengucap adalah “Muhammad telah diberi wahyu oleh Allah”. Dan ingat, fa’il dan nai’bul fa’il tidak bias digandengkan dalam satu kalimat.
Begitu pula dalam contoh kalimat,
الْيَوْمُ يَوْمُ الأَحَدِ (Hari ini adalah hari Ahad)

Kita harus menganalisis, apa kedudukan dari tiap kata tersebut, sehingga pemaknaan dan maksud yang diinginkan tersampaikan (coba bagi para pembaca untuk menentukan kedudukan serta arti dari kalimat di atas).
Dengan hal inilah mengapa mempelajari bahasa arab dapat meningkatkan kecerdasan. Materi-materi yang sudah diberikan harus bisa dipahami dan dipraktekkan. Sehingga wajar saja bila para ulama kita, ketika memberi fatwa, mereka bisa memberikan jawaban yang tepat dan mencakup banyak hal.
Dan perlu diketahui, bahasa arab dapat dijadikan ajang teka-teki bagi para santri untuk mengasah kemampuan dia dalam berbahasa arab dan tentunya dalam berpikir.
Semoga bermanfaat..
Readmore...

Suatu Faidah Dari Seorang Budak Ulama Nahwu Sibawaih

 
Dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki hendak menemui Sibawaih bermaksud ingin menandinginya dalam ilmu Nahwu. Ternyata Sibawaih sedang tidak berada di rumah. Lalu budak perempuan Sibawaih keluar menemui lelaki tersebut. Kemudian ia berkata kepada budak itu, “Di mana tuanmu, wahai budak?” Budak perempuan itu pun menjawab:
فاء إلى الفيء فإن فاء الفيء فاء
“(Tuan) pergi ke suatu tempat (berteduh), jika bayangan sudah pergi (maksudnya jika matahari berada di atas kepala -pen) maka dia (akan) kembali.”

Mendengar tuturan seperti itu, lelaki itu pun berkata:
والله إن كانت هذه الجارية فماذا يكون سيدها
“Demi Allah, jika budaknya saja begini, bagaimana pula dengan tuannya?!”
Lalu dia pun kembali (tidak jadi menantang -pen)
(Ditulis ulang dari majalah “Al-Hisbah”, No. 98, hal. 81)
Faidah yang dapat dipetik dari kisah tersebut:
1. Budak saja pintar Nahwu, kenapa kita yang merdeka malas bahkan tidak mau belajar Nahwu?
2. Kisah di atas menunjukkan bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang sarat makna. Perhatikanlah, bagaimana sang budak merangkai kalimat hanya dengan menggunakan satu sumber kata saja, yaitu الفيء (bagi bashriyyun dan yang sependapat dengan mereka) atau فاء (bagi kufiyyun dan yang sependapat dengan mereka).
3. Budak yang seperti ini termasuk yang diberi taufik oleh Allah, sehingga bisa beristifadah (mengambil manfaat) dari tuannya dari sisi ilmu. Sangatlah disayangkan -khususnya bagi para penuntut ilmu yang langsung meneguk ilmu dari sumbernya- tidak beristifadah dari para syaikh dan ‘alim yang berada di dekatnya, baik dari segi akhlak maupun ilmu. Wallaahul Muwaffiq.
4. Bahasa itu bukan monopoli orang-orang di kelas tertentu saja. Siapapun bisa menguasainya. Bahasa arab bukan monopoli orang-orang arab saja. Orang non-arab sekalipun tidak mustahil bisa menjadi ahli dalam bidang ini. Sungguh Sibawaih dan budaknya menjadi perumpamaan pada poin ini. Sibawaih bukan orang arab, namun dia adalah salah satu pakar tersohor dalam bahasa arab -bahkan menjadi rujukan utama-. Budaknya -yang jelas-jelas budak- walaupun di tengah-tengah kesibukan sebagai budak, namun tidak menghalanginya untuk berbahasa arab dengan sangat apik. Anehnya malah orang arab sendiri -kebanyakan- yang meninggalkan bahasa arab. Mereka lebih cenderung menggunakan bahasa ‘pasaran’ yang kebanyakannya menghilangkan/memangkas -bahkan mengganti/menukar- kaidah dalam bahasa arab. Semoga Allah memberi petunjuk dan taufik-Nya kepada kita semua untuk bisa belajar dan menerapkan bahasa arab dalam kehidupan kita.
Abu Yazid Nurdin
Readmore...

Bahasa Arab, Bahasa Dunia

 
Di masa Daulah Abbasiyyah, yang ketika itu peradaban Islam mulai berkembang, bahasa Arab menjadi bahasa internasional. Bahasa Arab menjadi bahasa peradaban yang ditandai dengan diterjemahkannya berbagai buku dari bahasa Yunani dan Persia ke dalam bahasa Arab. Dengan bahasa Arab pula, para sarjana Islam menulis berbagai karya dalam bidang kedokteran, teknik, matematika, sains, dan berbagai bidang ilmu yang lain. Bahasa Arab merupakan pengantar ilmu-ilmu tadi  ke wilayah Eropa sehingga menjadi pondasi peradaban Eropa modern.

Setelah masa keemasan itu berlalu, bangsa Arab mulai mengalami masa kemunduran. Mereka mulai menjauh dari agama mereka, meninggalkan bahasa Arab baku, dan beralih pada berbagai dialek.
Kemudian, tibalah masa penjajahan. Di masa ini, penjajah menggerus kebudayaan  Islam dan penggunaan tata bahasa Arab baku. Mereka bersungguh-sungguh menanamkan penggunaan beragam dialek sehingga muncullah dialek Mesir, Maghrib (Afrika Utara), dan Suriah. Demikianlah realita yang terjadi. Inilah sebab terpecahnya bangsa Arab serta menjauhnya mereka satu sama lain, yang tampak apabila seorang Arab berkunjung ke wilayah Arab yang lain, dia akan kesulitan  berkomunikasi dengan penduduk lokal jika mereka berbicara menggunakan dialeknya. Komunikasi tidak bisa berjalan lancar antara kedua belah pihak, kecuali jika digunakan bahasa Arab baku.
Kondisi di masa kini telah berubah. Penggunaan dialek melemah, sedangkan penggunaan bahasa Arab baku mulai menguat. Ini terjadi karena pengaruh pengajaran linguistik dan adanya berbagai sarana komunikasi modern. Akhirnya, bahasa Arab kembali menjadi bahasa internasional untuk kedua kalinya, seperti bahasa Inggris, Perancis, dan Spanyol, dan menjadi salah satu bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bahasa ini juga menjadi bahasa ketujuh di dunia, dengan penutur lebih dari dua ratus juta orang Arab. Dengan bahasa ini pula, lebih dari satu milyar umat Islam menunaikan ibadah.
* Diterjemahkan dari artikel yang berjudul “Al-’Arabiyyah Lughah ‘Alamiyyah” dalam kitab Al-’Arabiyyah bayna Yadayk, jilid kedua, hlm. 158.
—
Catatan faidah:
Kaum muslimin hendaknya bangga dengan bahasa Arab baku dan tidak perlu malu atau ragu untuk mempelajarinya serta menyebarluaskan penggunaannya. Jangan sampai kaum muslimin terkecoh dengan kesan modern yang dimunculkan untuk memacu orang agar berlomba-lomba mahir berbahasa Inggris, Perancis,Spanyol, Cina, atau Jepang. Ketika Allah memilih bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an, itu sudah cukup menjadi bukti bahwa bahasa Arab baku adalah bahasa utama yang patut mereka pelajari.

Ummu Asiyah Athirah
-dengan beberapa editan redaksi-
Catatan Redaksi:
Di satu sisi, masa Abbasiyyah merupakan masa perkembangan peradaban Arab, tetapi di sisi lain justru merupakan masa kemunduran yang fatal. Penerjemahan buku-buku filsafat Yunani menjadi sebab masuknya bid’ah-bid’ah berbahaya bagi umat Islam, seperti Qadhariyah, Jahimyah, Asy‘ariyah, dan Mu‘tazilah.
Pada masa Khalifah al-Ma’mun dunia terjemahan sedang berada di puncaknya, penyempurnaan proyek pembangunan pusat intelektual Abbasiyyah, “Baitul Hikmah” yang telah mulai digarap pada masa ayahnya Harun ar-Rasyid. Bahkan ia terjun langsung sebagai penanggungjawab tugas ini untuk menambah buku-buku Yunani dan mengawasi tugas terjemahan.
Ash-Shofadi -rahimahullah- berkata,
“Disebutkan ketika al-Ma’mun mengadakan perjanjian perdamaian dengan raja-raja Nasrani –yaitu raja pulau Cyprus-, ia menulis surat meminta dikirimkan khazanah buku-buku Yunani, karena mereka mempunyai peninggalan buku Yunani yang cukup banyak pada sebuah tempat, yang tidak diperlihatkan kepada siapa pun. Raja pun mengumpulkan orang-orang terpercaya dan para cendekiawannya, kemudian  meminta saran mereka. Mereka semua mengusulkan agar tidak dikirim, kecuali seorang pendeta. Ia berkata kepada sang raja: “Kirimlah buku-buku itu kepada mereka. Ilmu ini tidaklah masuk ke sebuah bangsa yang bersyari’at kecuali membuatnya hancur dan membuat para cendekiawan ilmu mereka berpecah-belah.”[*]
Di antara pemikiran bid’ah yang paling menonjol sebagai akibat pengaruh filsafat di saat itu adalah bid’ah mu’tazilah. Pemikiran ini mampu memengaruhi Khalifah Al-Ma’mun. Di antara ajaran mu’tazilah adalah pernyataan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Maka mulailah musibah terjadi menimpa kaum Muslimin. Pada tahun 212 H, Al Ma’mun memaksakan pandangannya yang sesat kepada rakyat. Padahal, menurut aqidah Islam yang lurus, Al-Qur’an adalah kalamullah (perkataan Allah), dan bukan makhluk.
Al-Ma’mun kemudian menindas para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, terutama Imam  Ahmad bin Hambal rahimulloh, dengan menyiksanya dalam penjara tanpa alasan.
Ustadz Armen Halim Naro berkata,
” … tentu kita dapat membayangkan sejauh mana bahaya penerjemahan ini, dengan mengetahui berapa buku-buku yang diterjemahkan dan berkembang di masyarakat Islam tanpa pengawasan, ditambah tujuan dari para penerjemah yang tidak terlupakan oleh kita. Begitulah kaum muslimin diserang dalam segi pemikiran dalam rumah tangga mereka sendiri, berjatuhanlah korban yang sangat banyak, jatuhlah mereka satu per satu ke dalam bid’ah atau kezindikan.

[*] (Al-Ghaitsul Musjim syarah Lamiyatil ‘Ajam) 1/79. Lihat pembahasan lebih luas dalam artikel Filsafat Islam Konspirasi Keji yang dimuat dalam Majalah Al Furqon Edisi 2 Tahun 6 rubrik Aqidah. artikel: www.badaronline.com
Readmore...

Syariat Islam Tangkal Kerusakan

 
Berbagai media dunia gencar memberitakan kemajuan duniawi yang dicapai oleh orang-orang Barat. Ini menunjukkan kekaguman mereka terhadap orang-orang Barat. Maraknya pemberitaan ini telah mengecoh sebagian kaum Muslimin, terutama orang-orang yang tidak memiliki ilmu agama serta kawula muda. Mereka menganggap semua produk Barat berarti baik dan unggul, tanpa menimbangnya dengan tinjauan agama atau dengan akal sehat. Akhirnya, terjadilah berbagai peristiwa memilukan yang bisa kita lihat atau kita dengar saat ini.

Berbagai kerusakan, kemorosotan akhlak serta perubahan sikap anak terhadap orang tua semakin meresahkan. Penggunaan teknologi informasi yang mengalami kemajuan pesat dengan tanpa pengawasan ikut andil mempercepat proses perusakan. Handphone dan internet termasuk di dalamnya. Dengan dalih kemajuan dan kebebasan, syubhat disebarkan dengan berbagai cara yang menipu serta nafsu syahwat dibangkitkan dan disalurkan tanpa aturan. Pihak yang berusaha menghadang gerak para tentara setan ini dilabeli dengan gelar menakutkan. Di antaranya digelari fundamental, jumud (statis) atau bahkan ada yang menyematkan gelar teroris. Iyâdzan billâh (semoga Allâh Ta'âla melindungi kita semua).

Minimnya ilmu agama yang dimiliki oleh masyarakat, turut memperlaju gerak para perusak. Si anak tidak mengetahui hak dan kewajiban terhadap orang tua atau orang lain, begitu juga orang tua; mereka tidak peduli dengan pendidikan dan bimbingan serta merasa tidak perlu mengawasi pergaulan anak. Mereka memandang dengan memenuhi kebutuhan fisik serta menyekolahkan di sekolah favorit, sudah cukup. Ilmu agama diposisikan pada nomor sekian. Padahal kebahagian yang mereka cari hanya bisa didapatkan dalam ketenangan hati. Allâh Ta'âla Pencipta manusia, yang Maha Tahu tentang hakikat manusia telah memberitahukan dalam firman-Nya:

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
(Qs ar-Ra’d/13:28)

Juga firman-Nya :

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku,
Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit,
dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.
(Qs Thâha/20:124)

Tidakkah kita mau merenunginya? Allâh Ta'âla berfirman yang maknanya :
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman,
untuk menundukkan hati mereka mengingat Allâh Ta'âla
dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)?,
dan janganlah mereka seperti orang-orang yang
sebelumnya telah diturunkan al-kitab kepadanya"
(Qs al-Hadîd/57:16)

Satu kesalahan yang dilakukan oleh seseorang, akan menyeretnya kepada kesalahan-kesalahan berikutnya, jika tidak segera bertaubat. Ketidak-pedulian para orang tua terhadap ilmu agama berdampak pada penyia-nyiaan pendidikan agama si buah hati. Bagaimana bisa membimbing, kalau dia sendiri tidak memiliki ilmu? Akibatnya, generasi harapan yang tumbuh tanpa bimbingan agama akan mudah terperosok dalam perangkap setan yang dipoles agar kelihatan indah yaitu pergaulan bebas.

Jika sudah demikian, maka menenggak minuman keras atau barang haram lainnya, zina dan berbagai perbuatan nista lainnya seakan menjadi sebuah keniscayaan. Termasuk di antaranya aborsi dengan dalih memelihara atau menjaga nama baik. Adakah manusia yang berakal sehat yang mengatakan bahwa semua ini adalah sebuah kemajuan? Hanya manusia yang sudah terpedaya dengan tipu daya setan yang mengatakan demikian. Bagi mereka, nafsu syahwat adalah komandonya, karena akal sehat mereka sudah rusak. Mereka menganggap segala yang dikehendaki nafsu itulah sebuah kebaikan, sebaliknya yang tidak dikehendaki nafsu syahwat berarti buruk dan tidak modern. Nas’alullâh ‘afiyah. Semoga Allâh Ta'âla menyelamatkan kita dari segala yang mendatangkan keburukan dunia maupun akhirat.

Islam sebagai agama yang datang dari Allâh Ta'âla telah menetapkan berbagai syari’at (aturan). Penerapan syari’at-syari'at ini, selain sebagai ibadah kepada Allâh Ta'âla juga sebagai tameng bagi perilaku tak senonoh dan tak manusiawi. Misalnya, larangan berkhalwat (berdua-duaan) serta larangan berjabatan tangan antara laki dan perempuan yang bukan mahramnya, larangan meniru-meniru orang-orang kafir, perintah menjaga pandangan mata dan perintah memilih teman yang agamanya baik. Syari’at-syari’at Islam ini, selain sebagai ibadah kepada Allâh Ta'âla juga merupakan langkah penangkalan terhadap berbagai keburukan, karena ia menutup celah-celah yang berpotensi dimanfaatkan setan untuk menjerumuskan manusia. Penerapannya akan mendatangkan kebaikan bagi semua pihak.

Tidakkah kita mau mengambil pelajaran? Hendaknya kita bersemangat menuntut ilmu agama dan menerapkannya sesuai dengan kemampuan kita dan menjauhi semua larangan-larangan Allâh Ta'âla dan Rasul-Nya. Dengan demikian, kemungkaran insya Allâh dapat dicegah dan generasi berikutnya yang menjadi harapan akan terselamatkan.

Hanya kepada Allâh Ta'âla kita memohon agar kita dianugerahi ilmu yang bermanfaat; juga memohon hidayah agar bisa melaksanakan agama ini dengan baik serta istiqamah dan terhindar dari keburukan yang menggandeng keburukan lainnya.
(Tajuk: Majalah As-Sunnah Edisi 04 Tahun XIII)
Readmore...

Plus Minus Facebook

 
Penullis: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi hafizhahullah
Dari sekian banyak jejaring sosial yang bertebaran di dunia internet, mungkinfacebook adalah yang paling dikenal pengguna internet. Masing-masing jejaring sosiakl itu memiliki tujuan, ciri khas dan komunitas tersendiri. Sebagai seorang muslim hendaknya kita berteman dengan “para penjual minyak wangi” dan menghindari pertemanan dengan “para pandai besi”.

DEFINISI FACEBOOK DAN SEJARAHNYA
Facebook adalah sebuah layanan jejaring sosial dan situs web yang diluncurkan pada Februari 2004 yang dioperasikan dan dimiliki oleh Facebook, Inc. Pada Januari 2011, Facebook memiliki lebih dari 600 juta pengguna aktif. Pengguna dapat membuat profil pribadi, menambahkan pengguna lain sebagai  teman dan bertukar teman, termasuk pemberitahuan otomatis ketika mereka memperbarui profilnya. Selain itu, pengguna dapat bergabung dengan grup pengguna yang memiliki tujuan tertentu, diurutkan berdasarkan tempat kerja, sekolah, perguruan tinggi, dan karakteristik lainnya.
Nama layanan ini berasal dari nama buku yang diberikan kepada mahasiswa pada tahun akademik pertama administrasi universitas di AS dengan tujuan membantu mahasiswa mengenal satu sama lain. Facebook memungkinkan setiap orang berusia minimal 13 tahun menjadi pengguna terdaftar di situs ini.
Facebook didirikan oleh Mark Zuckerberg bersama temannya dan sesama mahasiswa ilmu komputer: Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes. Keanggotaan situs web ini awalnya terbatas untuk mahasiswa Harvard saja, kemudian diperluas di perguruan lain. Situs ini secara perlahan membuka diri kepada mahasiswa di universitas lain sebelum dibuka untuk siswa sekolah menengah atas, dan akhirnya untuk setiap orang yang berusia minimal 13 tahun.[1]
Pergerakan dan popularitas Facebook semakin tumbuh dari hari ke hari. Dari berbagai penjuru, warga dunia menggunkan fasilitas ini, termasuk Indonesia. Sehingga menurut statistik, pada 16 Maret 2009 jam 14.00 WIB, ada 2.235.280 orang yang menyatakan warga Indonesia di Facebook.[2]
PLUS MINUS FACEBOOK
Facebook ini ibarat seperti sebuah pisau, bisa bermanfaat bila digunakan untuk hal-hal bermanfaat tetapi juga bisa membawa bahaya. Facebook bisa digunakan sebagai wadah silaturahmi di dunia maya, berdakwah, menimba ilmu, dan sebagainya. Namun, sebaliknya Fecebook juga bisa digunakan sebagai ajang maksiat. Berikut ini penjelasannya lebih terperinci:
1. Manfaat Facebook
Di antara manfaat Facebook:
a. Sebagai sarana dakwah
Facebook bisa digunakan sebagai sarana dakwah yang bagus di tengah keringnya ilmu dan informasi tentang Islam yang benar, sehingga betapa banyak orang mendapatkan hidayah disebabkan membaca artikel di Facebook atau diskusi di Facebook.
b. Wadah silaturrahmi
Facebook bisa digunakan sebagai wadah untuk menyambung silaturrahmi antara sesama teman, orang tua, kerabat, murid, atau guru dan ajang untuk menceri kawan lebih banyak lagi yang itu hukum asalnya adalah boleh-boleh saja.
c. Menyimpan file/tulisan
Tulisan yang disimpan di komputer bukan tidak mungkin akan hilang saat komputer terkena virus. Akan tetapi, jika disimpan di Fecebook, maka file tersebut tetap akan selamat selama account masih aktif.
2. Keburukan Facebook
Di antara keburukan Facebook:
a. Kecanduan
Banyak dari pengguna Facebook merasa asyik berbalas atau chatting, sehingga mereka menjadi lupa pada waktu, tugas kewajibannya, bahkan ada yang sampai dibuat lalai dari aturan agama gara-gara kecanduan Facebook.
b. Wadah maksiat
Banyak dari para pengguna Facebook tidak mengindahkan aturan agama sehingga menjadikan Facebook sebagai wadah maksiat, berupa ghibah, fitnah, gosip, pacaran, dan sebagainya.
c. Gambar foto
Di antara wabah Facebook yang sangat perlu diperhatikan adalah budaya menampilkan foto-foto pribadi yang jelas akan dilihat banyak orang, bahkan tekadang yang ditampilkan adalah foto-foto seronok yang mengumbar nafsu. Oleh karenanya, bagi para pengguna Facebook hendaknya mengganti foto-foto tersebut dengan foto-foto lain yang tidak bermasalah seperti pemandangan alam dan sejenisnya.[3]
FACEBOOK, HALAL ATAU HARAM?
Booming-nya Facebook menuai kontroversi di kalangan para tokoh agama. Sehingga dahulu pernah diberitakan bahwa pondok pesantren se-Jawa Timur dan Madura yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pondok Pesantren Putri mengharamkan pemanfaatan Facebook secara berlebihan seperti mencari jodoh maupun pacaran. Hal ini juga sesuai dengan hasil pembahasan dalam bahtsul masail di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, Kediri, Jatim. Namun, fatwa ini akhirnya menuai protes dari para tokoh moderat, bahkan ada sebagian kalangan menilai bahwa fatwa tersebut “kolot” dan “ketinggalan zaman”.
Sebenarnya tidak ada kontradiksi bila kita mau memadukan antara kedua pendapat tersebut. Sebab, kami rasa kita semua sepakat bahwa Facebook hanyalah sekedar sebuah alat saja, bukan haram secara zatnya, namun semua itu tergantung pada penggunaannya. Maka substansi fatwa para tokoh yang melarangnya seharusnya kita ambil faedahnya yaitu agar penggunaan Facebook bukan untuk kemaksiatan melainakan harus diarahkan kepada yang positif.
Syaikh Muhammad asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Pembagian yang benar mengenai sikap dalam menghadapi penemuan modern Barat terbagi menjadi empat macam:
  1. Meninggalkan penemuan modern baik yang bermanfaat maupun berbahaya
  2. Menerima penemuan modern baik yang bermanfaat maupun berbahaya.
  3. Menerima yang berbahaya dan meninggalkan yang bermanfaat.
  4. Mengambil yang bermanfaat dan meninggalkan yang berbahaya.
Dengan pembagian penemuan modern menjadi empat ini, ternyata kita dapati bahwa pertama, kedua, dan ketiga adalah batil tanpa diragukan lagi, berarti yang benar hanya satu yaitu keempat.”[4]
Tentu saja, Facebook adalah termasuk masalah kontemporer yang tidak ada dalilnya secara khusus. Namun,bila kita telaah kaedah-kaedah fiqhiyyah yang telah mapan, dapat kita temukan beberapa argumentasi yang menunjukkan hukum asal penggunaan Facebook adalah boleh, setidaknya ada dua kaedah fiqih yang bisa kita terapkan untuknya:
1. Asal segala urusan dunia hukumnya boleh
Kaidah ini merupakan kaidah yang agung sekali, yaitu bahwa asal semua urusan dunia adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya dan asal semua ibadah adalah terlarang sampai ada dalil yang mensyari’atkannya.
Banyak sekali dalil al-Qur’an dan hadits yang menunjukkan kaidah berharga ini, bahkan sebagian ulama menukil ijma’ (kesepakatan) tentang kaidah ini.[5] Cukuplah dalil yang sangat jelas tentang ini adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اذا كان شيء من امر دنياكم فشأنكم ٠ واذا كان شيء من امردينكم فالي

“Apabila itu urusan dunia kalian maka itu terserah kalian, dan apabila urusan agama maka kepada saya.”[6]
Bila ada yang mengatakan, “Bagaimana apabila alat dunia tersebut ditemukan oleh orang nonmuslim?” Jawabnya: Sekalipun begitu, bukankah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu menerima strategi membuat parit sebagaimana usulan Salman al-Farisi ketika Perang Khandaq?! Jadi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima strategi tersebut walaupun asalnya adalah dari orang-orang kafir dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan bahwa stretegi ini najis dan kotor karena berasal dari otak orang kafir. Demikian juga tatkala shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, beliau meminta bantuan seorang penunjuk jalan yang kafir bernama Abdullah al-Uraiqith. Semua itu menunjukkan bolehnya mengambil manfaat dari orang-orang kafir dalam masalah dunia dengan tetap mewaspadai virus agama mereka. Dalam hikmah Arab dikatakan:

اجتن الثمار والق الخشبة في النار

Ambillah buahnya dan buanglah kayunya ke api.[7]
Maka tidak selayaknya seorang hamba menolak nikmat Alloh tanpa alasan syar’i dan tidak halal baginya untuk mengharomkan sesuatu tanpa dalil.
2. Sarana tergantung pada tujuannya
Ini juga merupakan kaidah yang sangat penting dan berharga sekali.[8] Tidak ragu lagi bahwa dakwah, silaturrahmi, menimba ilmu, dan lainnya merupakan tujuan yang mulia, maka segala sarana yang menuju kepada tujuan tersebut hukumnya seperti tujuannya. Hal ini sama persis dengan hukum menaiki pesawat terbang untuk berangkat haji, menggunakan bom, tank, dan alat-alat canggih modern untuk jihad dan sebagainya; tidak diragukan tentang bolehnya karena alat-alat tersebut merupakan sarana menuju ibadah yang mulia.
Kesimpulannya, bahwa Facebook layaknya alat-alat teknologi lainnya seperti telepon, radio, tipe, dan sebagainya, bisa digunakan untuk menimbulkan kerusakan akidah, pemikiran, akhlak dan sebagainya tetapi ini tidak boleh hukumnya dalam pandangan syariat. Dan bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Maka seyogianya bagi kaum muslimin untuk memanfaatkan alat ini untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi dunia dan akhirat agar dakwah Islam semakin berkembang dan menyebar. Wallohu A’lam.[9]
ETIKA SEORANG MUSLIM BER-FACEBOOK
Facebook adalah jejaring sosial. Itu berarti kita hidup dalam kawasan pertemanan dan pergaulan. Maka etika-etika bergaul harus diperhatikan. Ada beberapa etika yang perlu kami sampaikan kepada pengguna Facebook sebagai nasihat bagi kita semuanya:
1. Jadikan sebagai ladang pahala
Hendaknya seorang yang masuk pada situs ini meluruskan niatnya terlebih dahulu, dia benar-benar ingin menjadikan Facebook untuk sesuatu yang bermanfaat sebagai ajang silaturrahmi, berdakwah, menimba ilmu, dan sebagainya.
2. Mengatur waktu
Hendaknya pengguna Facebook memahami akan mahalnya waktu. Janganlah ia terjebak dalam kesia-siaan atau terlena keenakan chatting sehingga lalai dari sholatnya, kewajiban, dan tugasnya di rumah atau tempat kerja.
3. Waspadailah zina mata dan hati
Dalam Facebook akan di-pasting foto-foto pengguna Facebook lainnya yang terkadang mereka adalah foto-foto lawan jenis. Tidak menutup kemungkinan muncul nafsu birahi dengan melihatnya. Maka hendaknya kita takut kepada Allah dan menyadari bahwa semua itu adalah ujian akan keimanan kita kepada-Nya.
4. Jagalah kata-kata
Janganlah kita merasa bebas menulis status atau komentar dan kata-kata di Facebook. Pilihlah kata-kata yang baik dan menyenangkan. Jangan menulis kata-kata yang kotor, fitnah, provokasi, gosip, ghibah (gunjingan), dan sebagainya. Seorang muslim harus menjaga anggota tubuhnya dari hal-hal yang dapat menodai keimanannya.
Demikianlah fiqih Facebook yang dapat kami sampaikan. Semoga apa yang kami sampaikan ini membawa manfaat bagi semuanya. Aamiin
DAFTAR REFERENSI
  1. Facebook Sebelah Surga Sebelah Neraka. Yuniardi Syukur. Diva Press, cetakan pertama, Agustus 2009 M.
  2. Al-Ahkam al-Fiqhiyyah li Ta’amulat Iliktroniyyah. Dr. Abdurrahman as-Sanad. Dar al-Warroq, cetakan ketiga, 1427 H.
Dan lain-lain
Sumber:
Diketik Ulang dari Majalah al-Furqon No. 114 edisi II Tahun ke-10 Jumada Akhir 1432 H hlm. 43-45 dengan beberapa penyesuaian dari Admin Syabab Petarukan. Dipublikasikan ulang olehwww.Salafiyunpad.wordpress.com

[1] Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/facebook
[2] Facebook Sebelah Surga Sebelah Neraka hlm. 9-21 karya Yuniardi Syukur
[3] Lihat Facebook Sebelah Surga Sebelah Neraka hlm. 26-31 karya Yuniardi Syukur.
[4] Adhwa’ul Bayan: 4/382
[5] Jami’ul Ulum wal Hikam: 2/166 oleh Imam Ibnu Rajab
[6] HR. Ibnu Hibban: 1/201 dan sanadnya shohih sesuai dengan syarat Muslim
[7] Lihat pula al-Adzbu an-Namir min Majalis Syinqithi fi Tafsir: 2/602 oleh Khalid bin Utsman as-Sabt dan Risalah Rof’u Dzull wa Shoghor hlm. 42-45 oleh Syaikh Abdul Malik Romadhoni.
[8] Lihat al-Qowa’id wal Ushul Jami’ah hlm. 13-19 oleh Syaikh Abdurrahman as-Sa’di.
[9] Lihat al-Ahkam al-Fiqhiyyah li Ta’amulat Iliktroniyyah hlm. 82 oleh Dr. Abdurrahman as-Sanad
==========================
Fans page SALAFIYUNPAD™http://www.facebook.com/SALAFIYUNPAD
Fans page Komunitas Pengusaha Muslim Indonesiahttp://www.facebook.com/pengusahamuslim
Fans page Kajian.Net http://www.facebook.com/kajian.net
Readmore...
sunnah

blog copas